Menurut Beni, dari 33 naskah yang masuk, hanya 29 yang dikurasi. Sebab, 4 naskah lainnya terpaksa disisihkan karena tidak memenugi syarat yang ditentukan panitia. Misalnya, jumlahnya kata kurang dari 1.000, padahal persyaratan minimal 2.500 kata. Subjek biografi dari 4 naskah yang disisihkan tersebut sebenarnya cukup berbobot, yaitu KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo dan Kiai Faizi dari Madura. “Sayangnya, penulisan biografinya tidak cukup memenuhi syarat,” tandas Beni.
Dalam Lomba Penulisan Biografi ini, tugas tiga kurator tersebut mengkurasi dan memilih tiga naskah terbaik. Selanjutnya dipilih juara 1, 2, dan 3. Selain itu, mengkurasi kelayakan naskah untuk dibukukan. Sebab, hasil lomba ini nanti akan dibukukan ke dalam seri buku “Biografi Orang-orang Pesantren” setelah melalui proses penyuntingan. Karena itu, jika yang dikurasi oleh curator adalah naskah aslinya, yang akan diterbitkan menjadi seri buku “Biografi Orang-orang Pesantren” adalah naskah-naskah yang sudah melalui proses penyuntingan.

Salah satu kurator lomba, Jamal D. Rahman, memberi acungan jempol terhadap naskah-naskah yang sedang dikurasi. Menurutnya, berdasarkan naskah lomba ini, banyak orang hebat dari kalangan pesantren di berbagai daerah yang selama ini “tersembunyi”, belum banyak dikenal publik.
“Bagus-bagus naskahnya. Dari lomba seperti ini, kita jadi tahu banyak orang-orang hebat di berbagai daerah yang selama ini kita tidak tahu,” ujar Kang Jamal, panggilan akrab sastrawan asal Madura tersebut. Menurutnya, Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren seperti ini harus ditradisikan dan hasilnya dibukukan. “duniasantri harus terus menginisiasi tradisi yang baik seperti ini,” pungkasnya.
