Kalau air putih hambar tak berasa tidak jadi perkara. Karena dari zaman unta sampai toyota wataknya memang begitu-begitu saja.
Lain perkara kalau nasi goreng. Sejak dalam pikiran, bahkan yang bukan Chef Juna sekalipun paham di luar kepala; bahwa secara konsep nasi goreng itu mesti ada cita rasanya. Maka bila nasi goreng hambar, tak ada gurih-gurihnya, hampir pasti membikin lidah murung, enggan bergoyang dan berahi makan menyuruk ke dalam tanah. Nasi tetap ditelan namun tak ada nuansanya.

Begitu pula halnya dengan khutbah yang dilantangkan dari atas mimbar. Sudah seyogyanya sang khatib menyampaikan materi yang menjadikan jamaah melongo sampai jenggot dan kumisnya ikut menyimak. Karena khutbah itu momentumnya jarang-jarang. Tak seperti gerobak cincau yang dalam sehari saja bisa mondar-mandir dua kali.
Khutbah itu paling minimal seminggu sekali. Sisanya menunggu giliran lebaran fitri dan lebaran bandot. Mungkin agak berlebihan menyamakan khutbah dengan konser BTS di bumi pertiwi. Tapi keduanya sama-sama jarang, teriak-teriak, dan pegang mikrofon. Maka sekalinya hadir haruslah memukau. Bukankah jamaah army bakal kusut kalau BTS kompak serempak bersenandung Rumah ke Rumah? Jangankan army, jamaah sidang jumat rahimahullah pun kusut habis kalau khatib tiba-tiba berdendang rumah ke rumah.
Sepengalaman saya datang khutbah ke khutbah, materinya berputar di situ melulu, seperti bianglala di pasar malam. Jamaah kelewat sering dijejali untuk menjauhi dosa-dosa personal. Supaya Allah rida, jauh dari panggang api neraka, dan mulus masuk surga. Bukannya tidak penting. Tentunya ini alarm berharga untuk mewujudkan فى الآخرة حسنة.
Masalahnya hal-hal ukhrawi ini sudah kelewatan sering. Bahkan telah disuapin sejak SD. Sehingga kepala umat sudah sangat khusyuk memahami bahwa meninggalkan salat itu masuk neraka. Bukan masuk diskotik.
Coba bayangkan. Dalam setahun ada 52 hari Jumat ditambah 2 hari raya Islam. Saban kesempatan itu khatib selalu bilang: Jagalah salat, jauhi dosa, dan berbuat baik. Demi terhindar dari segala marabahaya dan menggapai surganya Allah. Apa umat tidak tidak terkentut-kentut akibat terlalu banyak menguap? Ditambah saya pernah mendengar sang khatib berkata, “perbuatan dosa itu menghalangi rezeki. Maka jangan salah-salahkan pemerintah, tetangga, ataupun orang lain kalau hidup sengsara. Sudah menguap mangap-mangap disalah-salahkan pula.”
