Sewajarnya mengikuti era, media-media pesantren kini turut mewarnai algoritma jejaring sosial hari ini. Bahkan satu pesantren memiliki akun di berbagai platform, mulai dari Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, hingga saluran WhatsApp.
Kabar baiknya, hal ini menjadi sarana meluaskan dakwah keilmuan keagamaan, terlebih khas pesantren. Konten-konten yang diunggah adalah pengajian atau pengkajian kitab-kitab kuning, meskipun lebih banyak konten kegiatan pesantren. Seperti nadhoman, pengajian, khitobah, kebersamaan para santri, hingga giat ro’an.

Barangkali, bersentuhannya pesantren dengan jagat maya dapat menjadi kontra narasi terhadap unggahan yang mengedepankan gimmick atau bahkan hoax semata.
Hal baik lainnya, dengan adanya media-media sosial pesantren, orang tua yang memondokkan anak dapat dengan mudah mendapatkan update keadaan anaknya. Melalui percakapan digital, grup WhatsApp wali santri, maupun live Instagram. Sehingga emosi sentimentil dalam proses adaptasi berpisah (sementara) antara anak-orang tua dapat terjembatani dan terekspresi.
“Tolong arahkan kameranya ke arah si Fulan, Kang” tulis salah satu wali santri di kolom komentar live yang lewat di beranda media sosial saya.
Bukan hanya itu, beberapa kali saya juga mendapati konten serupa di status salah satu kontak WhatsApp yang merupakan seorang wali santri baru. Menampilkan tangkapan layar atau video kegiatan santri yang menampakkan wajah anaknya. Tentu saja lengkap dengan caption “melihat wajah anak sekilas saja sudah menjadi kabar baik untuk kami”. Caption khas orang tua yang pertama kali melepas anaknya hidup mandiri.
Media sosial pesantren kini menjadi penghubung kabar keadaan antara santri, pesantren, dan wali santri. Namun, dari sekian konten kepesantrenan dan seliweran status wali santri, ada konten yang menjadi perhatian saya terkait media sosial pesantren. Bahwa nadhoman syair-syair nahu dan saraf menubuh sebagai tradisi. Bahwa kegiatan maknani kitab kuning dalam ngaji bandongan menjadi budaya pesantren yang lestari.
