Salah satu ulama yang ditulis kisah hidupnya oleh KH Husein Muhammad adalah Ibnu Jarir al-Thabari, yang dikenal sebagai imam mujtahid mutlak, ahli tafsir, ahli hadis, sejarawan, faqih, dan ahli dalam bidang bahasa.
Tanpa niat membanggakan diri, Ibnu Jarir al-Thabari menceritakan sendiri masa kecilnya, “Aku hafal Al-Quran pada usia tujuh tahun. Aku menjadi imam salat pada usia delapan tahun. Aku menulis hadis waktu usia sembilan tahun” (hlm. 23).

Ibnu Jarir tidak menikah sampai akhir hayat karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan kegemarannya dalam menulis. Hari-harinya dihabiskan untuk menuntut ilmu kepada ulama besar di berbagai tempat dan menulis setiap hari berlembar-lembar.
Saking sibuk membaca buku dan menulis, Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah, perempuan cerdas si kutu buku ini, juga tetap melajang karena lebih sibuk dengan ilmu pengetahuan, lebih suka membaca dan meneliti ilmu pengetahuan daripada mengamati wajah-wajah para pelamar. Menurutnya, menggumuli ilmu pengetahuan jauh lebih nikmat daripada kenikmatan menikah (hlm. 33).
Hal senada juga menjadi alasan tidak menikahnya Ibnu Taimiyah (syeikhul Islam, muhaddits, mufassir, ushuli, mujtahid, mujaddid dan mujahid). Dalam buku ini, KH Husein Muhammad mengutip perkataan Mahmud Daud Dasuki yang menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyah tidak menikah bukan karena beliau tidak menyukai pernikahan, menghindari atau melawan fitrah manusia, melainkan karena beliau lebih mengutamakan ilmu pengetahuan, dakwah, jihad, kerja transformasi sosial dan mendidik masyarakat (hlm. 80).
