Epistimologi dari konsep multikulturalisme sebenarnya adalah sebuah ideologi yang menempatkan manusia dalam wahana makhluk yang beradab dan berderajat. Konsep ini adalah bentuk pengakuan terhadap entitas kemanusiaan (individual, otonom dan berkecenderungan) sebagai makhluk tuhan. Istilah multikultural pertama kali diperkenalkan di Kanada sekitar tahun 1920 sebagai sinonim dari kata pluralis untuk menjukkan masyarakat yang majemuk. Dalam wacana Al-Qur’an dasar epistemologis multikulturalisme adalah kemuliaan manusia, yang darinya muncul seperangkat hak asasi yang harus dihormati dan dilindungi dan merupakan fondasi etis bagi multikulturalisme (Pendidikan Multikulturalisme dalam Islam, Suluri)
Di Amerika Serikat istilah multikultural lebih dikenal dengan melting post society, di India menggunakan ungkapan omposite society dan Indonesia sendiri mengungkapnya dalam bentuk slogan Bhinneka Tunggal Ika. Istilah itu muncul menjadi identitas nasional sebagai bentuk pengakuan terhadap karakteristrik masyarakatnya yang majemuk, baik berupa etnis, ras, budaya dan warna kulitnya. Di satu sisi keberagaman adalah suatu kekayaan yang terdapat dalam masyarakat. Kita bisa berdialektika secara komparatif untuk mengasosiasi kebenaran melalui perbedaan. Namun tidak jarang pula perbedaan berpotensi mengarah pada kehancuran ketika sikap multikultural tidak hadir di dalamnya.

Melihat realitas sosial, konsep multikultural diagendakan dalam bentuk pendidikan. Pakar pendidikan Amerika Serikat, Prudence Crandall sebelum merumuskan adanya pendidikan multikultural, menaruh perhatian secara intensif terhadap latar individual masing-masing peserta didik dalam proses sebuah institusi. Dia menaruh perhatian yang amat besar untuk memahami peserta didik secara intensional akan latar etnis, budaya dan agamanya.
Secara garis besar pendidikan multikultural bertujuan untuk memenuhi hak belajar peserta didik yang ditempatkan dalam porsi yang sama. Sikap tersebut berusaha untuk membentuk pribadi yang berkarakterkan demokratis dan pluralis dalam melihat realitas keberagaman, bahwa setiap orang layak mendapatkan pembelajaran yang sama tanpa dibatalkan dengan rasisme kelompok tertentu (Fuad Funani, 1978). Islam sendiri memiliki konsep pendidikan multikultural yang lebih spesifik, utamanya dalam semangat juang persatuan di Indonesia.
