Islam dan Pendidikan Multikulturalisme

Konsep pertama dalam pendidikan multikultural adalah berusaha menjauhi linear doktrinal terhadap pembelajaran fiqih dan tafsir Al-Qur’an dengan metode alternatif melalui komparasi turunan dari syariat (muqaran). Hal ini diperlukan adanya ijtihad memberikan rumusan-rumusan baru tentang keislaman ketika dihadapkan pada permasalahan yang lebih kompleks.

Selanjutnya, mengembangkan kecerdasan spritual dan keshalehan sosial. Demarkasi relasi kemanusiaan sangat jelas dalam Islam. Di satu sisi manusia harus cerdas secara spritual sebagai bentuk penghambban diri kepada tuhan (hablun minallah) dan keshalehan sosial dalam membangun hubungan baik dengan sesama tanpa memandang latar belakang yang ada (hablun minannas wa hablun minal alam).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Metodologi pendidikan multikultural demikian halnya menjadi suatu pengharapan di tengah keberagaman. Menjadi suatu pegangan ketika konsep pluralisme atau episteme multiculturalism untuk menerima dan mengahargai perbedaan yang terus berkembang dibatalkan dengan identitas sosial yang melakat pada diri masing-masing manusia.

Mengingat suatu paham pluralisme menjadi suatu keniscayaan yang harus tertanam pada masing-masing individu, pendidikan multikulturalisme menjadi metode yang harus digalakkan secara intensif dengan penuh kehati-hatian. Manusia perlu menyadari bahwa Allah Swt. menginginkan adanya keanekaragaman di tengah manusia. Fakta itu dapat dibuktikan dengan Tuhan yang menciptakan manusia dalam kondisi berbeda baik dalam ilmu pengetahuan, sikap, pendapat, perasaan, dan konsekuensi turunan dari itu semua, seperti keinginan mereka untuk memilih pekerjaan yang ingin dijalani. Jadi tidak ada ruang bagi konflik dan potensinya dengan alibi perbedaan.

Tinggalkan Balasan