Ilustrasinya sederhana. Ketika aku melihat Ibnu Umar, yang kulihat adalah Umar. Ketika aku melihat Umar, aku lupa Ibnu Umar. Dipraktikkan dalam keseharian yang dilihat, ketika aku melihat uang, yang terlihat Allah; ketika aku melihat atau mengingat Allah, aku lupa uang. Sedemikian mudah ilustrasinya, tapi belum tentu mudah mengamalkannya.
Definisi inilah yang perlu ditawarkan kepada pemeluk agama. Ketika seseorang masih menomorsatukan selain Allah, maka akan berkurang syahadatnya.

Islam dalam konteks ini dipahami sebagai laku, bukan sebagai identitas. Artinya, dalam menjalani kehidupan di dunia, dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, digunakan metode Islam, yakni menyaksikan Allah dalam segala aktivitas dan kesadaran. Allah sebagai subyek utama dalam segala dimensi kehidupan. Itulah mengapa istilah sufi menggunakan “nuansa keilahian” sebagai gambaran bahwa Allah subyek utama. Seseorang selalu merasa diliputi Allah.
Selain menyaksikan, Islam secara bahasa dimaknai sebagai penyerahan. Ada yang unik dari makna ini. Seakan-akan seseorang harus menyerahkan dirinya secara total kepada Allah. Penyerahan sendiri menuntut adanya pengenalan. Si fulan tidak akan bisa menyerahkan barang berharganya kepada sembarang orang, paling tidak dia harus kenal dengan orang yang akan diserahi. Mengenal artinya mengetahui betul bahwa sesorang itu dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan amanah.
Dua makna ini bekerja secara dialektis. Penyerahan diri baru bisa dilakukan kalau ada penyaksian. Seandainya kita tidak pernah menyaksikan orang yang akan diserahi barang, tentu kita tidak akan menyerahkan barang kita kepada orang yang tak pernah kita tahu dan kenal. Menyaksikan sendiri mangandaikan penglihatan secara langsung.
Namun, kita tidak mungkin menyaksikan secara langsung dengan kasat mata, menyaksikan secara zahir kehadiran Allah. Tentu, maknanya secara batin. Sebuah abstraksi.
Sekali lagi, Islam dalam konteks ini, dan penting kiranya dipertimbangkan ulang untuk proses beragama kita, bukanlah agama formal atau institusional yang mengarah ke identitas seseorang, melainkan sebuah laku, metode, praktik menjalani kehidupan di dunia. Cita-citanya, kita berhasil dan sukses menjalani peran kita sebagai makhluk Allah yang diturunkan di muka bumi. Sebagaimana konsep awal penciptaan, perjanjian awal di alam ruh, alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa.
