MENAFAKURI INSOMNIA
Selamat berakhir tahun, kekasih
Dunia semakin tebal menaburkan dempul
ke pipi waktu
aku lebih giat
memasang topeng baru
biar lebih tersamar
segala aib dan dosa

Selamat berjumpa di kota kita
di mana bulan membulat
seperti tekad
Kau dan aku
menjelma kata pertama dan seterusnya
Kita pagut segala cemas dengan gemas
Ke manapun kau berkelana
genggamlah jemari puisi
Peluk aku dengan prasangka baik
dan sekelumit doa
Sebab manusia hanya bisa
berupaya
Maka biar Tuhan
Sebagai jurinya
Jika rindu sudah mendidih
Tuang saja ia
ke dalam cangkir
aku akan hadir
sebagai kopi
yang tiap malam memandumu
menafakuri insomnia
Yang tiap hari mengajakmu
menyetubuhi sepi
Wonokromo, 2020.

Wah kita satu kampung mba wkwk
Eh iya mbak, se kompleks pula. Mbak yang tadi malem abis gibah di kamar saya kan?