Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu episode paling penting dalam sejarah kenabian Nabi Muhammad saw. Ia tidak hanya dipahami sebagai mukjizat yang melampaui batas kemampuan manusia, tetapi juga sebagai peristiwa yang sarat makna spiritual, etis, dan peradaban. Isra Mikraj bukan sekadar kisah tentang perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kenaikan menuju Sidratul Muntaha, melainkan penanda penting tentang bagaimana Islam memandang hubungan antara manusia, Tuhan, dan realitas kehidupan.
Dalam tradisi keislaman, Isra Mikraj sering kali diperingati secara seremonial. Ceramah, peringatan, dan pembacaan kisah dilakukan berulang setiap tahun. Namun, tidak jarang peristiwa ini dipahami secara terbatas sebagai kisah luar biasa yang berdiri sendiri, terlepas dari konteks sosial dan spiritualnya. Padahal, jika ditelusuri secara mendalam, Isra Mikraj hadir pada fase paling sulit dalam kehidupan Rasulullah saw., sehingga maknanya tidak dapat dilepaskan dari realitas penderitaan, perjuangan, dan keteguhan iman.

Isra Mikraj terjadi setelah Rasulullah saw. mengalami masa yang dikenal sebagai ‘am al-huzn atau tahun kesedihan. Wafatnya Khadijah, istri sekaligus pendukung utama dakwah, dan Abu Thalib, pelindung politik Nabi, meninggalkan luka mendalam. Dalam kondisi tersebut, tekanan dari kaum Quraisy semakin keras, dan dakwah Islam berada dalam situasi yang sangat genting. Di tengah keterbatasan itulah Isra Mikraj terjadi, seolah menjadi jawaban ilahi atas kegundahan manusiawi yang dialami Nabi.
Makna penting dari konteks ini adalah bahwa Isra Mikraj bukanlah peristiwa yang hadir dalam suasana kemenangan dan kejayaan, melainkan dalam kondisi keterpurukan. Hal ini mengajarkan bahwa kekuatan spiritual sering kali justru lahir dari situasi paling gelap. Dalam kehidupan manusia modern yang kerap diwarnai kegelisahan, kegagalan, dan tekanan hidup, pesan ini menjadi sangat relevan. Islam tidak memisahkan antara penderitaan manusia dan jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.
Salah satu inti dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah salat. Berbeda dengan kewajiban lainnya, salat disyariatkan secara langsung dalam peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan kedudukan salat sebagai fondasi utama kehidupan spiritual seorang Muslim. Salat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan sarana pembentukan kesadaran diri, pengendalian hawa nafsu, dan peneguhan hubungan dengan Allah Swt.
Dalam praktik keseharian, salat sering kali dipahami secara formalistik. Ia dilakukan sebagai rutinitas, tanpa diiringi perenungan mendalam. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa salat berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dengan demikian, salat seharusnya berdampak langsung pada perilaku sosial dan etika individu. Isra Mikraj mengingatkan bahwa ibadah tidak berhenti pada gerakan lahiriah, tetapi harus berbuah pada perbaikan akhlak dan tanggung jawab sosial.
Selain dimensi spiritual, Isra Mikraj juga memuat pesan peradaban yang penting. Persinggahan Rasulullah saw. di Masjidil Aqsa menunjukkan keterhubungan Islam dengan sejarah kenabian sebelumnya. Islam hadir sebagai kelanjutan dari risalah tauhid yang telah dibawa para nabi terdahulu. Pesan ini menegaskan bahwa Islam tidak berdiri dalam ruang hampa sejarah, melainkan menjadi bagian dari mata rantai peradaban yang panjang.
Dalam konteks global saat ini, pesan tersebut menjadi sangat relevan. Dunia modern kerap diwarnai konflik identitas, klaim kebenaran sepihak, dan pengingkaran terhadap keberagaman sejarah. Isra Mikraj mengajarkan bahwa kesadaran keagamaan yang matang harus disertai dengan pemahaman sejarah dan sikap terbuka terhadap realitas kemanusiaan. Keimanan tidak melahirkan eksklusivisme sempit, tetapi tanggung jawab moral yang lebih luas.
Isra Mikraj juga sering diperdebatkan dari sudut pandang rasionalitas modern. Sebagian orang mempertanyakan kemungkinan terjadinya perjalanan tersebut dalam satu malam. Pertanyaan semacam ini wajar dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, persoalan Isra Mikraj tidak dimaksudkan untuk diukur sepenuhnya dengan logika empiris. Ia merupakan mukjizat yang menegaskan keterbatasan akal manusia dalam memahami kehendak Tuhan.
Meski demikian, Islam tidak pernah menafikan peran akal. Akal tetap memiliki kedudukan penting dalam memahami ajaran agama dan realitas kehidupan. Isra Mikraj justru mengajarkan keseimbangan antara akal dan iman. Akal digunakan untuk memahami tanda-tanda Tuhan di alam semesta, sementara iman menjadi landasan untuk menerima realitas yang melampaui kemampuan rasional manusia.
Dalam kehidupan modern yang sangat menekankan rasionalitas dan efisiensi, pesan ini menjadi pengingat penting. Tidak semua nilai dapat diukur secara kuantitatif. Ada dimensi kehidupan yang hanya dapat dipahami melalui perenungan, kesadaran batin, dan pengalaman spiritual. Isra Mikraj menempatkan manusia pada posisi yang proporsional: sebagai makhluk berakal yang tetap membutuhkan petunjuk ilahi.
Bagi generasi muda, Isra Mikraj seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun keseimbangan hidup. Kehidupan modern menawarkan berbagai kemudahan, tetapi juga membawa tantangan berupa krisis makna. Banyak orang merasa kehilangan arah meskipun memiliki akses terhadap pendidikan dan teknologi. Dalam konteks ini, Isra Mikraj mengajarkan bahwa kemajuan lahiriah harus diiringi dengan pendalaman spiritual.
Rasulullah saw. tidak berhenti berjuang setelah Isra Mikraj. Justru sebaliknya, beliau kembali menghadapi realitas dengan semangat baru. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual sejati tidak menjauhkan seseorang dari kehidupan sosial, tetapi menguatkannya. Spiritualitas dalam Islam tidak bersifat eskapis, melainkan transformatif. Ia mendorong perubahan diri dan masyarakat secara berkelanjutan.
Isra Mikraj juga mengajarkan tentang pentingnya disiplin dan konsistensi. Salat lima waktu yang diwajibkan melalui peristiwa tersebut menuntut keteraturan dalam kehidupan. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, disiplin semacam ini menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru di situlah nilai salat sebagai sarana pengendalian diri dan penataan hidup.
Lebih jauh, Isra Mikraj dapat dibaca sebagai simbol perjalanan manusia menuju kesadaran yang lebih tinggi. Setiap manusia memiliki potensi untuk “bermikraj” secara spiritual, yakni meningkatkan kualitas iman dan akhlaknya. Proses ini tidak selalu mudah dan sering kali melalui fase ujian dan kesulitan. Namun, sebagaimana ditunjukkan dalam peristiwa Isra Mikraj, kesungguhan dan keteguhan akan membuka jalan menuju kedewasaan spiritual.
Dalam perspektif pendidikan, Isra Mikraj mengajarkan bahwa pembentukan manusia tidak cukup hanya dengan transfer pengetahuan. Pendidikan sejati harus menyentuh dimensi moral dan spiritual. Tanpa fondasi tersebut, pengetahuan dapat kehilangan arah dan bahkan disalahgunakan. Isra Mikraj menegaskan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman batin.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Isra Mikraj tetap relevan sebagai sumber inspirasi. Ia mengajarkan tentang keteguhan dalam menghadapi kesulitan, pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan, dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Nilai-nilai ini melampaui batas waktu dan budaya, menjadikannya pesan universal bagi seluruh umat manusia.
Dengan demikian, Isra Mikraj tidak seharusnya dipahami semata sebagai peristiwa historis atau kisah mukjizat. Ia adalah pesan hidup yang terus berbicara kepada setiap generasi. Melalui peristiwa ini, umat Islam diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup, memperkuat spiritualitas, dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Jika Isra Mikraj hanya dirayakan secara simbolik, maka maknanya akan berkurang. Namun, jika ia dijadikan sebagai sumber refleksi dan inspirasi, maka Isra Mikraj akan terus hidup dalam kesadaran umat. Sebab, perjalanan sejati bukanlah perjalanan fisik menuju langit, melainkan perjalanan batin menuju kesadaran, tanggung jawab, dan kedewasaan sebagai manusia beriman.
