Di hari yang lain, Siti terkejut ketika daun-daun pohon apel itu banyak yang menguning, seperti terserang hama, dan lama-lama jadi layu, lalu berguguran memadati tanah. Siti memilah selembar daun itu dengan dada bergetar dan tangan gemetar. Siti tak bisa menahan air matanya, ia mulai curiga akan terjadi sesuatu lagi.
Malam harinya ia menelepon tiga anaknya dan bertanya perihal kabar. Hanya Ardi yang tidak bisa dihubungi, nomornya dalam keadaan tidak aktif. Kedua saudaranya pun ikut panik, terutama ketika Siti bercerita tentang gugurnya daun-daun apel di pekarangan rumahnya.

Sebagai seorang wanita yang hidup sendiri, Siti hanya bisa menangis sambil berdoa agar Ardi baik-baik saja, sambil lalu ia menunggu kepastian kabar dari dua anaknya yang sedang mencari Ardi saat itu. Satu hari kemudian, ia baru mendapatkan kabar bahwa Ardi kehilangan seluruh barang-barang di kosannya, termasuk HP. Tapi anak-anaknya berusaha menenangkan Siti, karena Sika dan Ryan berpatungan untuk membantu Ardi agar bisa membeli HP lagi. Akhirnya Siti bisa tersenyum, meski air matanya tetap berlinang.
***
Siti selalu tersenyum sejak seminggu yang lalu, tepatnya sejak ia melihat ranting-ranting apel itu dipupur bunga-bunga halus yang kian hari warnanya kian cerah, elok bersembunyi di ramping ketiak susunan daun. Siti sering meluangkan waktunya dengan duduk di bawah pohon apel kesayangannya itu sambil menatap titik-titik bunga yang bertebaran. Ia tidak langsung mengabari anak-anaknya, ia berencana akan membuat kejutan dengan langsung mengirimkan buahnya kepada ketiga anaknya nanti ketika apel itu sudah matang.
Apel itu berbunga pada saat musim hujan, sehingga bunga-bunga itu banyak yang luruh oleh tikaman angin dan tamparan hujan. Hanya beberapa bunga yang mampu berubah jadi buah. Dan buah-buah itu pun hanya satu yang mampu bertahan dari amuk hujan dan angin. Buah apel satu-satunya itu berada pada posisi yang agak tersembunyi oleh sampiran daun rimbun. Semakin hari semakin besar dan kulitnya mulai terlihat ranum. Siti selalu memandangnya dengan senyum, dan ia berencana akan membelah buah apel itu menjadi tiga bagian untuk dikirimkan kepada tiga anaknya.
Seminggu kemudian, Sika datang dalam keadaan sakit. Ia mengaku pening dan sering muntah. Tak seperti biasanya, ia menolak berobat secara medis, alasannya karena takut untuk minum obat-obatan yang mengandung bahan kimia. Ia cuma meminta Siti mengobatinya dengan ramuan alam yang ada di desanya. Sudah ada banyak ramuan yang Siti racik dari banyak orang yang sempat ia tanyakan. Tapi keadaan Sika tetap tak berubah, ia tetap sering pening dan muntah-muntah, waktunya banyak digunakan untuk tidur, selebihnya hanya termenung di jendela, seperti memendam sesuatu yang menyakitkan.
Semakin hari, tubuh Sika semakin kurus, hanya perutnya yang membuncit. Siti mengira, anak perempuannya itu sedang terserang penyakit tumor. Siti membujuk Sika agar berobat secara medis, tapi Sika tetap tidak mau. Siti terus membujuk bahkan setengah memaksa, tapi Sika tetap tidak mau dan hanya menangis di kamarnya. Sampai tiba suatu pagi, ketika keduanya sedang duduk di bawah pohon apel itu, dengan bahasa yang lembut, Sika mengaku dengan jujur, bahwa dirinya sedang hamil. Siti sangat terkejut mendengar kabar itu. Ia meneriakkan nama Sika satu kali lalu menangis keras sembari memeluknya.
Siti baru sadar, ternyata munculnya buah apel yang hanya satu buah itu diam-diam memberi isyarat kepada dirinya bahwa Sika sedang hamil. Siti bingung apa yang harus ia lakukan. Hari-harinya dilalui dengan mengurung diri dalam kamar. Dan suatu sore, ketika ia bermaksud hendak menghibur diri di pekarangan rumahnya, tiba-tiba saja dirinya menjolok buah apel itu, lalu melemparnya jauh-jauh, hingga lenyap entah ke mana. Ia berharap agar kandungan Sika lenyap mengikuti jejak buah apel itu.
ilustrasi: aliexpress, gustav klimt.
