Izinkan Aku Tak Kembali Padamu, Bu

“Kamu dari tadi mondar-mandir, apa yang kamu cari, Nak?”

“Apa Mbah Nem melihat ibuku?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ibumu belum kembali sejak tadi pagi. Bukankah kamu tadi dipamiti bahwa ia akan ke pasar?”

“Iya Mbah, aku akan menyusulnya ke sana.”

Alfi memutuskan kembali ke pasar dengan berjalan kaki. Ia berharap akan menemukan ibunya di sana. Tetapi, sampai senja datang ia tidak menemukan ibunya.

***

“Santoso itu orang baik, ia akan menjaga Alfi,” kata hati kecil Yati.

Malam itu ternyata Yati memutuskan menerima ajakan yang pernah ditawarkan Pitoyo kepadanya. Pitoyo pernah menawarkan kepadanya untuk melamar menjadi pembantu di Jakarta. Rencananya, jika ia sudah bekerja, ia akan mengajak Alfi.

“Bu Lik yakin memutuskan untuk pergi ke merantau ke Jakarta?”

“Aku tidak ada pilihan lain, Pit. Di sini, aku hanya luntang-lantung bekerja serabutan tapi tidak ada hasilnya.”

“Di sana, mungkin Bu Lik bisa dapat pekerjaan sebagai pembatu.”

“Tidak mengapa, Pit.”

“Jika begitu, mari ikut saya sekarang.”

***

Sementara itu, Santo pun kebingungan mencari Alfi di rumah sakit yang tak kunjung ketemu. Santo pun akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari di pengungsian.

“Ini sudah hampir malam, ke mana kamu, Al?” Ia hampir putus asa untuk mencarinya karena seluruh lokasi pengungsian itu sudah dikelilinginya, tetapi belum menemukannya. Teman-teman Alfi juga ditanyainya, tetapi tak mengetahuinya. Akhirnya, ia menanyakan kepada Mbah Nem, tetangga Yati, yang sedang duduk di bawah pohon akasia di dekat dapur umum.

“Tadi siang ia menyusul ibunya ke pasar,” jawab Mbah Nem.

“Terima kasih, Mbah.”

Santo langsung menuju ke pasar. Ketika hendak memasuki pasar, terlihat Alfi sedang menangis tersedu di depan gapura pasar. Santo menghampirinya.

“Alfi, sudah jangan menangis.” Santo merasa bersalah karena telah memisahkan Alfi dari ibunya.

“Ayo ikut aku kembali ke rumah sakit. Kita tunggu ibumu di sana.”

Alfi hanya terdiam.

“Ibumu pasti menjemputmu, tapi tidak di sini.” Dengan sabar, Santo merayu Alfi agar mau kembali ikut ke rumah sakit.

“Sini Al, aku gendong, kamu pasti capai, kan?”

Karena Alfi berpikir ibunya tak akan kembali malam ini, akhirnya ia naik ke punggung Santo untuk kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di teras ruang ICU, Santo mengintip keadaan keluarganya di sana. Ia melihat para tim medis melepaskan semua alat medis yang dikenakan Dewi malam itu. Belum sembuh sedihnya kehilangan anaknya, dini hari itu Zain menyusul anaknya menghadap Ilahi.

Hati Santo sangat terpukul, tetapi ia berusaha tampak tegar di hadapan Alfi. Santo menggandeng Alfi menuju ruang dokter jaga.

“Kondisi istri Bapak sudah menurun dalam dua hari terakhir. Tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil yang menentukan Allah. Besok pagi, jenazah keluarga Bapak akan kami makamkan dengan protokol kesehatan walaupun hasil tes swab belum keluar. Bapak tidak perlu memikirkan biaya perawatan selama ini.”

“Baik Pak, terima kasih bantuannya kepada kami.”

Tinggalkan Balasan