***
Dua puluh tahun sudah berlalu, Alfi sekarang sudah lulus sebagai salah satu yang terbaik dari program pascasarjana Unair. Santo pun diundang dalam wisuda kelulusan.

“Saya sangat beruntung menemukan sosok Ayah yang mendidik saya dengan sabar. Yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan sehingga bisa meraih gelar megister di perguruan tinggi,” kata Alfi dalam penyampaian kesan dan pesan perwakilan mahasiswa.
“Allah memang memiliki sifat ar-rahman dan Ar-rahim. Allah tidak mungkin membuat makhluknya sengsara. Alhamdulillah, Allah telah menitipkan Alfi kepada saya.”
Santo merasa inilah saatnya menikmati sisa hidupnya. Perjuangan membesarkan Alfi telah berakhir.
Perjalanan pulang ke rumah meraka diiringi canda tawa. Hal yang mengejutkan, ketika sampai di rumahnya yang mungil, di sana terlihat sosok perempuan tua sedang duduk di teras rumah.
“Selamat malam, Pak San.”
“Bu Yati?”
“Iya Pak.”
Alfi langsung bersalaman sambil mencium tangan ibunya.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
“Alhamdulillah, Bu, Baik.”
Perasaan Santo sangat hancur ketika melihat Yati. Ia merasa akan kehilangan sosok yang sangat disayanginya.
“Pak San, saya mengucapkan terima kasih telah membesarkan Alfi selama ini. Saya ke sini ingin mengembalikan uang yang pernah saya pinjam dan sedikit hadiah kepada Bapak.” Santo pun diberikan seamplop uang.
“Saya berencana mengajak Alfi untuk berjalan-jalan sebentar. Sambil mengobrol empat mata dengan Alfi.”
“Iya Bu, silakan.”
Mereka pun meninggalkan Santo. Terlihat mereka memasuki sebuah mobil berwarna putih. Santo pun memasuki rumahnya sambil membuka amplop. Ia terkejut melihat uang yang diberikan Yati sangat banyak. Terlihat ada sepucuk surat di antara uang itu.
“Saya mohon maaf dulu menitipkan Alfi kepada Anda. Sebenarnya saya berniat menjemput Alfi secepatnya tetapi saya belum mampu. Sedikit uang ini hanya sebagai ungkapan terima kasih saya kepada Anda. Tetapi jika Bapak merasa belum cukup bisa membicarakan kepada saya.”
Santo merasa mungkin ini sudah saatnya ia berpisah dengan Alfi. Tetapi, ia masih berharap Alfi akan mengetuk pintu rumahnya untuk kembali membahagiakannya di hari tuanya.
***
Tiga hari telah berlalu, tak seorang pun mengetuk pintu rumah Santo. Dipandanginya WA-nya, yang berisikan pesan-pesan kepada Alfi untuk menanyakan kabar dan kegiatan Alfi bersama ibunya.
“Kau mungkin sudah bahagia bertemu dengan ibu, Al.”
Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian memutuskan untuk pergi ke warung. Alangkah terkejutnya ketika ia membuka pintu, Alfi sedang ada di depan rumahnya.
“Alfi, silakan masuk. Aku menunggu kedatanganmu sejak malam kepergianmu.”
“Ayah, aku…”
“Duduklah dulu, aku akan mencarikan kamu sarapan. Aku tidak memasak hari ini karena sendirian. Jangan pergi seperti waktu kamu kecil.” Sambil tersenyum Santo berdiri dengan cekatan agar tidak kehilangan waktu dengan Alfi, tetapi Alfi menahannya.
“Ayah tidak usah pergi mencarikan aku sarapan. Biarlah aku yang akan memasak untuk Ayah setiap harinya.”
“Apa maksudmu? Apa kamu tidak akan tinggal bersama ibumu?”
“Duduklah dulu, Yah. Biarkan aku bercerita.”
