pangeran diponogoro

Jalan Asketis Diponegoro Bagi Santri Masa Kini

Banyak ironi yang dialami santri hari ini.

Semuanya serba ada. Gawai di genggaman menyajikan ribuan halaman kitab kuning dalam sekian milidetik, sementara algoritma kecerdasan buatan (AI) siap membedah rumitnya ibarat fikih kapan saja. Beranda YouTube berjejal jutaan jam ceramah. Jurnal ilmiah tumpah ruah. Akses ilmu, yang dulu menjadi privilese berdarah-darah kaum elite, kini jatuh bebas ke pangkuan siapa saja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selesai? Belum tentu.

Di balik kemudahan yang melenakan ini, sebuah tanya menggugat kesadaran kita: Mengapa kelimpahan informasi justru membunuh rasa lapar kognitif kita?

Fasilitas melimpah ruah, namun semangat tafaqquh fiddin justru kerempeng. Kita begitu mudah merasa paripurna hanya dengan membaca utas singkat, cepat terdistraksi, dan perlahan kehilangan urat juang dalam mendalami ilmu.

Akar masalahnya barangkali bukan pada infrastruktur digital, melainkan pada filosofi kita memandang ilmu itu sendiri. Untuk mengurai benang kusut ini, mari menengok ke belakang.

Jauh sebelum era Society 5.0 merangsek, ada seorang pangeran yang memunggungi kemewahan istana demi memeluk jalan sunyi para ulama. Namanya abadi: Pangeran Diponegoro.

Pendidikan di Tegalrejo

Publik mengenalnya sebagai panglima perang yang menggetarkan jantung kolonial. Namun, sejarah kerap alpa. Jauh sebelum pedang dihunus, Diponegoro adalah seorang pencari ilmu yang dahaganya tak pernah tuntas. Masa mudanya tidak dihabiskan untuk bersolek di gemerlap keraton, melainkan di Tegalrejo. Di bawah asuhan Ratu Ageng Tegalrejo, sang pangeran muda menyemai benih asketisme, disiplin baja, dan kecintaan buta pada agama.

Tinggalkan Balasan