Isykal Kitab: Tradisi Kritis Pembelajaran di Pesantren

Al-‘ilmu khazanah, wa miftahuhu as-su’al.” Ilmu adalah perbendaharaan, dan kuncinya adalah bertanya.

Ungkapan tersebut seolah menemukan wujud nyatanya dalam tradisi pesantren, terutama ketika seorang santri berhadapan dengan isykal dalam kajian kitab kuning. Di pesantren, menemukan kesulitan bukanlah tanda kegagalan memahami pelajaran, melainkan awal dari lahirnya pemahaman yang lebih matang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagi masyarakat umum, kata isykal mungkin masih terdengar asing. Namun bagi santri, istilah ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap kali mengikuti pengajian kitab, selalu ada kalimat, istilah, atau penjelasan yang menimbulkan pertanyaan. Mengapa penulis menggunakan redaksi tertentu? Mengapa pendapat ulama dalam satu kitab berbeda dengan kitab lainnya? Mengapa sebuah hukum memiliki pengecualian? Semua pertanyaan tersebut merupakan bentuk isykal yang justru memperkaya proses belajar.

Secara bahasa, isykal berarti sesuatu yang rumit, samar, atau sulit dipahami. Dalam tradisi keilmuan Islam, isykal merujuk pada persoalan yang memerlukan penjelasan lebih lanjut agar makna suatu teks dapat dipahami secara utuh. Isykal dapat muncul karena struktur bahasa Arab yang kompleks, penggunaan istilah ilmiah, adanya perbedaan pendapat para ulama, maupun karena konteks pembahasan yang tidak diketahui oleh pembaca.

Keberadaan isykal menunjukkan bahwa kitab kuning bukanlah bacaan yang bisa dipahami secara mudah. Kitab-kitab karya ulama disusun dengan ketelitian bahasa yang tinggi. Satu kata dapat memiliki beberapa kemungkinan makna, sementara satu kalimat dapat dipahami secara berbeda apabila perubahan harakat atau susunan nahwunya tidak diperhatikan.

Tinggalkan Balasan