Sejak dekade 1980-an saya sudah banyak mengenal dengan baik penyair-penyair asal Madura. Hampir bisa dipastikan mereka adalah santri atau alumni pesantren. Dan, lebih jauh, mereka selalu ada kaitan dengan Guluk-guluk, atau lebih tepatnya lagi dengan Pondok Pesantren Annuqayah.
Kehidupan sastra dan pesantren di Madura sepertinya sudah menjadi sebuah pertautan yang alami. Santri-santri mengenal sastra di pesantren. Gairah penulisan karya sastra tumbuh dan berkembang karena ada ruang buat proses kreatif dan apresiasi yang disediakan pesantren.

Selain pernah mengunjungi Annuqayah, meski sudah lama sekali saya juga pernah mengisi acara di Pesantren Al-Amin, Prenduan. Kedua pesantren ini sama-sama memberikan ruang yang leluasa buat para santrinya untuk berkarya atau berkreasi.
Dengan demikian, berbekal proses kreatif serta apresiasi yang dijalani selama mondok di pesantren, para santri tidak akan melupakan sastra begitu saja pada saat mereka harus meninggalkan pondok. Di kampung halaman atau di kota-kota tempat mereka melanjutkan pendidikan, sastra terus digeluti dengan penuh semangat. Puisi-puisi terus ditulis dengan gairah yang tinggi. Sejumlah nama kemudian dikenal sebagai penyair di tempat barunya. Baik di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Bandung, Jakarta, atau kota-kota lain, jika ditelusuri selalu ada nama penyair yang berasal dari Pulau Garam, Madura.
Begitu juga yang terjadi dengan Masmuni Mahatma. Pertengahan 1990-an, mantan ketua Sanggar Andalas Guluk-guluk ini meninggalkan Annuqayah dan melanjutkan pendidikan di Bandung. Di Bandung ia bukan hanya belajar filsafat di UIN Sunan Gunung Djati, namun juga terus menulis, terutama puisi dan esai, yang tersebar di berbagai media di Jawa Barat. Selama menjadi mahasiswa, Masmuni juga bukan hanya aktif menulis, namun juga menjadi editor lepas di beberapa penerbit. Sejumlah buku pernah dieditorinya, yang masih saya ingat betul adalah kumpulan esai Jakob Sumardjo dan D. Zawawi Imron. Ia sendiri sudah menerbitkan sejumlah kumpulan puisi tunggal, di samping termuat juga dalam sejumlah antologi bersama.
Dari Bandung, penyair dan aktivis asal Madura yang satu ini mengembara ke Pulau Bangka dan menjadi dosen di STAIN SAS. Tentu saja ia ke Bangka bukan hanya mengajar. Sebagai penyair, ia berinteraksi dengan sejumlah pesantren di sana untuk menggalakkan apresiasi sastra. Bukan hanya dengan pesantren, ia juga membuka jaringan dengan para mahasiswa dari sejumlah kampus. Masmuni berdiskusi dengan mereka untuk persoalan-persoalan kebudayaan dan kebangsaan.
Dengan aktivitasnya yang luar biasa tersebut, ia kemudian terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Bangka-Belitung. Entah tahun berapa, mungkin sekitar 2016, saya bersama penyair Jamal D. Rahman diundang Masmuni ke Bangka untuk memberikan workshop penulisan di sebuah pesantren, di samping berdiskusi dengan para mahasiswa di kampus. Setelah Masmuni pindah lagi ke Bandung dan mengajar di UIN Sunan Gunung Djati, kami masih terus berkomunikasi. Terakhir, ia mengabari saya akan menerbitkan beberapa antologi puisi bersama penyair-penyair Madura, khususnya alumni Pesantren Annuqayah.
Rupanya rencana antologi puisi yang pernah diceritakan itu kini sudah terbit dalam beberapa seri yang diberinya judul Isyarat Gelombang I, II, dan III. Untuk melengkapi serial tersebut diterbitkan pula antologi Deru Dua Arus yang merupakan karya berdua Asy’ari Khatib dan Masmuni Mahatma sendiri, yang naskahnya sedang saya pegang ini.
Secara pribadi saya belum mengenal Asy’ari Khatib, meskipun mungkin saja pernah bertemu pada suatu kesempatan. Asy’ari sehari-hari adalah seorang pengajar di Pesantren Annuqayah yang juga sekaligus tutor bagi kegiatan-kegiatan sastra di pesantren tersebut. Tampaknya, menurut perkiraan saya, dilihat dari keseniorannya, beliau adalah mursyid puisi bagi penyair-penyair Madura yang sekarang tersebar di sejumlah kota di Pulau Jawa, yang umumnya alumni Annuqayah. Termasuk, mursyid dari Masmuni Mahatma sendiri.
Perkiraan saya tentang kesenioran tersebut bukan hanya dilihat dari tahun kelahiran beliau, tapi juga diimpresikan oleh puisi-puisinya yang tampak sudah matang baik dalam pengolahan bahasa maupun tema.
Antologi Deru Dua Arus terdiri dari dua bagian, pertama berisi sejumlah puisi Asy’ari Khatib dengan berbagai tema. Namun, tema-tema tersebut mengarah pada perenungan liris tentang makna hidup. Puisi-puisi Asy’ari menarik karena sama sekali tidak ada upaya menggurui secara langsung, jauh dari pretensi memperlakukan sastra sebagai media dakwah yang verbal. Di sini penyair hanya mendedahkan buah renungan puitisnya dengan ungkapan-ungkapan yang terbuka untuk ditafsir dan dimaknai. Penyair paham bahwa puisi adalah seni berbahasa sehingga diksi-diksi yang dipilih, kalimat-kalimat yang dibentuk mempunyai keutuhan satu sama lain sehingga unsur-unsur dalam tubuh puisi tidak terkesan lepas-lepas. Selalu ada benang merah yang mengikat imajinasi, yang di sana-sini, kadang terasa liar juga.
