Jalan NU

Jalan Kemaslahatan

Jika melihat preseden-preseden sebelumnya, maka isu-isu seputar saatnya NU dipimpin tokoh muda atau harus ada pembatasan masa jabatan menjadi sesuatu yang terasa tak signifikan dan strategis. NU akan selalu punya jalan untuk masalah itu dengan “tradisi fleksibilitasnya”. Selalu tersedia pendekatan-pendekatan atau mekanisme yang berbeda untuk situasi zaman yang berbeda. Jalan NU adalah jalan kemaslahatan, dan karena itu apa yang akan diputuskan oleh Muktamar tentu untuk kemaslahatan tak hanya bagi warga Nahdliyin dan umat Islam pada umumnya, tapi juga bagi bangsa dan negara Indonesia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Isu-isu tersebut, yang berembus lebih karena adanya intrusi politik dari berbagai kelompok kepentingan, sesungguhnya bukan tantangan sebenarnya bagi NU di masa depan. Dan NU sudah memiliki pengalaman cukup panjang soal itu. Setidaknya ada dua tantangan strategis yang layak memperoleh perhatian serius dalam Muktamar nanti. Yang pertama adalah derasnya instrusi ideologi transnasional dan yang kedua adalah perubahan ekosistem ekonomi.

Yang pertama sesungguhnya merupakan “perang lama” tapi dengan palagan baru. Palagan barunya adalah teknologi informasi digital. Terus terang, NU sedikit terlambat menyadari dan mengantisipasi bahwa “perang ideologi” telah berpindah dari palagan lama, katakanlah dari mimbar-mimbar konvensional, ke palagan baru, berupa pemanfaatan media digital. Intrusi ideologi atau paham-paham ekstrem, radikal, dan intoleran, misalnya, sekarang dan nanti akan lebih banyak terjadi melalui media digital ini. Wajah Islam di masa depan akan ditentukan oleh siapa pemenang dalam palagan baru ini. Bahkan, wajah Islam Indonesia juga akan ditentukan oleh “perang lama” dengan palagan baru ini.

Dampak intrusi ideologi transnasional itu sudah bisa dirasakan tahun-tahun belakangan ini, dan keutuhan bangsa sebagai taruhannya. Paham-paham ekstrem, radikal, dan intoleran yang mengafirmasi terorisme itu sudah merembes ke mana-mana, bahkan hingga ke institusi-institusi keagaman yang sebelumnya steril darinya. Siapa yang menjamin benteng NU akan kukuh selamanya jika tak ada ikhtiar ke arah sana? Jika terjadi instrusi ideologi transnasional demikian akut, akan sulit untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin jika tak menguasai palagan baru ini.

Tantangan lainnya adalah bagaimana warga Nadhliyin mampu beradaptasi dengan perubahan atau disrupsi ekonomi yang demikian pesat ini. Memang NU bukan lembaga ekonomi yang bisa membagi-bagikan proyek atau pekerjaan atau kemakmuran. Tapi menyiapkan atau menfasilitasi adanya ekosistem ekonomi yang kondusif bagi warganya adalah bagian dari peran dan tanggung jawabnya. Memakmurkan warga Nahdliyin berarti juga memakmurkan hampir separo populasi Indonesia.

Setidaknya, siapa nanti yang akan menjadi nakhoda, diharapkan mampu membawa NU menjawab tantangan-tantangannya di masa depan, bukan justru terintrusi oleh kepentingan kelompok politik tertentu.

Tinggalkan Balasan