Jamaludin Malik: Tokoh Lesbumi dan Bapak Film Indonesia

Jamaludin Malik tidak hanya dikenal sebagai produser film, tetapi juga importir dan distributor film, terutama film India dan Hollywood. Dengan demikian Jamal menguasai perederan film-film impor dan film nasional. Hampir semua jaringan gedung bioskop berada dalam kendali Jamal. Ini artinya, Jamal menguasai industri film dari hulu sampai hilir. Karena dia aktif di organisasi NU, banyak aktivis NU di daerah yang menjadi distributor film.

Jalal memang aktivis NU sejak muda. Dia mulai berkiprah di NU dengan menjadi anggota Ansor Anak Cabang Kebon Sirih pada 1952. Pada tahun 1962, ketika PBNU membentuk Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) dalam kongres di Bandung, Jamal terpilih sebagai Ketua Umum Lesbumi dan Usmar Ismail menjadi Ketua I dan Asrul Sani menjadi Ketua II. Beberapa tahun kemudian, Jamal diangkat menjadi Ketua PBNU, dan jabatan Ketua Umum Lesbumi kemudian dijabat oleh Asrul Sani sampai dekade 70-an.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Persentuhan Jamal dengan NU dimulai dari pertemuannya dengan KH Wahid Hasyim di Yogyakarta saat ibu Kota pindah ke Yogyakarta. Sebagaimana didokumentasikan oleh KH Saefudin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, saat itu Jamal bernyampaikan niatnya untuk ikut bertempur di medan perang. Dia berniat membubarkan kelompok sandiwara Panca Warna, yang didirikannya pada 1942 dan sudah berkeliling hampir ke seluruh kota besar di Indonesia, dengan tujuan membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air. Jamal dan kelompoknya merasa tidak puas berjuang hanya lewat kesenian. Mereka ingin berjuang dengan cara bertempur mengangkat senjata di medan perang.

Niat Jamal dan kawan-kawan untuk ikut bertempur di medan perang dengan membubarkan kelompok sandiwara ini ditolak oleh KH Wahid Hasyim. Menurut Kiai Wahid, berjuang tidak harus angkat senjata dan menjadi anggota laskar. Berjuang melalui jalur kesenian juga tidak kalah penting dengan berjuang di medan perang. Untuk itu, Kiai Wahid melarang Jamal berhenti menjadi seniman dan masuk menjadi anggota laskar. Sudah terlalu banyak yang menjadi anggota laskar, sedangkan yang menjadi seniman dan berjuang melalui seni, khususnya sandiwara, masih sangat sedikit. Padahal, dalam perjuangan yang sangat besar ini, seni merupakan alat perjuangan yang penting.

Tinggalkan Balasan