Selanjutnya, Kiai Wahid menjelaskan pada Jamal, bahwa pementasan sandiwara bisa dijadikan selubung untuk mengunpulkan para pejuang sekaligus mengumpulkan senjata agar tidak dicurigai musuh. Melalui sandiwara, para pejuang bisa bertukar informasi dengan menyamar menjadi penonton atau pemain. Akhirnya, Kiai Hasyim menyuruh Jamal untuk kembali ke Jakarta dan terus memainkan sandiwaranya untuk menghilangkan kecurigaan Belanda yang saat itu sudah menguasai Jakarta.
Bersama dengan Asrul Sani dan Usmar Ismail serta seluruh jajaran pengurus Lesbumi, Jamal telah menjadikan Lesbumi sebagai corong sekaligus gerakan seni ummat Islam, khususnya kaum nahdliyin. Pada dekade 1960-an terjadi tarik menarik gerakan kesenian antara kelompok liberal dengan jargon “seni untuk seni” di satu sisi dan gerakan kaum kiri di sisi lain dengan semboyan “politik adalah panglima” sehingga menggunakan seni sebagai alat politik.

Dalam ketegangan antara kaum liberal kapitalis dengan kaum komunis sosialis inilah Lesbumi lahir dengan spirit humanisme religius, menolak semangat “seni untuk seni” dan “politik sebagai panglima”. Lesbumi tidak berpegang pada isme tertentu, tetapi menjadikan agama sebagai kesatuan yang mengikat dan memberi bentuk batin kesatuan kebudayaan. Artinya, kebudayaan adalah ekspresi dari spirit keagamaan yang terejewantahkan dalam berbagai karya seni dan perilaku. Dengan demikian, kesenian bukan bebas nilai sebagaimana yang digaungkan oleh kaum liberal, juga bukan alat ideologi sebagaimana yang digaungkan oleh kaum sosialis. Dengan cara ini Lesbumi berhasil membendung pengaruh komunisme dan mengadang laju liberalisme.
Demikianlah, perjuangan Jamaludin Malik dalam membangun strategi kebudayaan nasional. Jejak-jejak itu masih terlihat jelas hingga saat ini meski sudah tergerus zaman dan tertutup oleh sampah peradaban. Hari ini, tepat 40 tahun kepergianmu, jejak-jejak itu seperti muncul kembali, menari-nari dalam ingatan seolah memberikan isyarat agar kita terus menjaga dan meneruskan jejak kebudayaan yang telah dirintisnya.
Ila rukhi Kiai Jamaludin Malik, al-Faatehah…
