“Aku pamit ….”
Dengan berat dan tak rela, Ibu Rahman melepaskan. Rahman berpura-pura tak melihat ibunya menangis. Laju kakinya meluncur perlahan keluar dari rumah yang bersejarah yang sudah mengemas masa kenang kanak-kanaknya. Air mata Rahman meleleh, tapi ia tetap saja terus berjalan dengan arah tuju yang tak terarah.

Di ambang pintu, Rahman berhenti. Mak Tini tiba-tiba datang mencegat.
“Apa kau ingin menyumpahi diriku, atau kau ingin menghujat memaki-maki?” sungut Rahman.
“Kau anak baik, Nak. Tidak sepantasnya dirimu meninggalkan desa atas perbuatan yang tidak kau sengaja.”
Rahman terdiam mematung sembari menelan ludah. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi.
“Semua kejadian di desa ini, itu semua kehendak Tuhan, Nak. Kau tidak salah apa-apa?”
***
Sudah 20 tahun lamanya ia menanggung beban itu. Suaminya seorang dukun yang meninggalkan dirinya dengan meninggalkan wasiat pembawa celaka.
“Setiap hari kurban parang penyembelih harus dimandikan dengan kembang tujuh rupa. Dan pada malam takbir parang-parang harus didoakan oleh istriku. Hanya dia yang tahu doanya,” begitu kata lelaki tua yang juga seorang dukun desa pada kala itu.
Mak Tini masih ingat dengan kalimat terakhir yang terucap suaminya sebelum meninggal. Dalam untaian kata-kata pada saat itu, lelaki tua itu yang sudah menahan sakit selama bertahun-tahun itu harus terjemput ajal mengerikan. Mulutnya komat-kamit berdoa kepada leluhur dan roh-roh halus yang menjadi khodamnya dan tak ada kata lain yang ia minta kecuali setelah ia meninggal agar doa-doa selalu terpanjat pada parang-parang jagal penyembelih hewan kurban sebelum arena persembelihan dimulai. Aneh. Tapi itu pesan-pesan yang selalu ia sampaikan kepada istrinya, Mak Tini.
Mak Tini sebenarnya menolak permintaan terakhir suaminya tersebut. Tapi entah kenapa pada saat satu tahun setelah kematian suaminya itu, ia tak melakukan apa yang diperintahkan. Alhasil, tiba-tiba desa terkena bencana beruntun. Mbah Darmo yang saat itu masih muda sekaligus murid tunggal suami Mak Tini langsung mencari akal, bagaiaman cara menghentikan bencana tersebut. Dengan bantuan roh-roh makhluk halus, ia menerima wangsit berupa harus mengorbankan 10 ekor ayam jantan jago dan satu ekor kambing sebagai tumbal atas kesalahan warga desa yang menghiraukan wasiat suami Mak Tini.
Setelah upacara sembelih hewan tumbal selesai, bencana desa berangsur-angsur membaik.
“Mak Tini …” sahut Mbah Darmo saat itu kepada Mak Tini.
Mak Tini melihat ke arah Mbah Darmo dengan wajah sesal.
