Jampi-jampi Mak Tini

“Kita harus menuruti kata-kata tetua leluhur kita, Mak. Doa-doa warisan suami, Mak, harus selalu ada pada parang-parang kurban yang akan disembelih pada hari raya kurban. Dan acara pembacaan doa tersebut harus dilakukan pada malam sebelumnya atau malam takbir.”

“Apa maksudmu, Darmo, aku sebenarnya tak mau melakukan hal itu. Syirik. Aku sudah tak mau berurusan dengan perkara pergoiban. Semenjak suamiku meninggal karena sakit yang entah berantah tak tahu datangnya dari mana, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak melakukan ritual-ritual apa pun.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tapi …”

“Tapi apa? Kejadian bencana-bencana itu semua sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Kau sudah tidak boleh menghubung-hubungkan suamiku yang sudah tiada itu dengan kejadian ini.”

“Mak, mau apa lagi? Aku juga tak ingin kejadian ini terjadi. Apa kau lupa, Mak, suamimu itu penganut aliran hitam. Sudah berapa jin, setan, dedemit yang ia pelihara! Kita juga tidak bisa memungkiri kenyataan itu, Mak.”

Mak Tini terdiam menahan tangis saat itu. Ia hanya ingin kembali seperti muda kala sebelum menikah dengan suaminya. Tak tahu apa-apa tentang ilmu perdukunan.

***

“Sudahlah, Nak. Kau jangan pergi.” Mak Tini terlihat meraut muka bersalah. Rahman menatap muka Mak Tini yang sudah berkeriput. Rambut uban putih Mak Tini terlihat sebagai tanda bagaimana orang tua itu sudah menelan pahit manis kehidupan. Mak Tini sangat berharap agar kematian menghampirinya setiap malam pada mimpi-mimpinya. Tapi sayangnya ajalnya belum juga menghampirinya.

“Mak, aku mau pergi saja dari desa ini! Aku sudah tak kerasan.”

“Dengar, Nak, bencana ini akan segera berakhir. Ini adalah takdir Tuhan, bukan salahmu. Sebenarnya ini salahku. Aku yang harus menanggung beban ini. Dulu kala hal seperti ini sudah terjadi sebelumnya.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengakhiri bencana di desa ini?”

Perbincangan mereka tiba-tiba terhenti sebelum  Mak Tini bisa menjawab, dan Rahman yang sudah tak tahan lagi  akhirnya pergi menghilang. Solusi atas kejadian ini belum juga dijawab oleh Mak Tini.

Tapi sehari setelah kepergian Rahman, desa tiba-tiba saja tentram. Bencana berhenti seketika. Warga kembali bersuka cita. Mereka merayakan pesta tasyakuran di balai desa agar tidak terjadi bencana lagi. Namun ada yang janggal. Tak terlihat seorang Mak Tini pada perayaan tersebut. Kepala Desa Heru sampai mencari ke rumah Mak Tini. Heru kaget saat melihat Mak Tini  sudah terbrujur dan tak bernyawa lagi. Terllihat sosok itu terbaring pada tikar kasurnya sembari mukanya berseri cerah tersenyum.

Heru termangu menahan sesak. Sekarang ia harus mengurus jenazah Mak Tini. Ia juga harus memikirkan cara untuk hari kurban besok bila parang-parang kurban tidak diberi jampi-jampi oleh Mak Tini, karena hanya dia satu-satunya orang yang tahu mantra-mantra doa agar tidak terjadi bencana yang sama di kemudian hari.

Surabaya, 19 Juni 2022.

Tinggalkan Balasan