Jangan-Jangan, Kita Adalah Neo-Fir’aun

Berbicara tentang Fir’aun, saya meyakini pasti sudah sangat masyhur dan mutawatir dalam benak kita semua. Sejak masih kecil, kita didoktrin oleh para guru guna menjadi pelopor kebaikan. Perwujudannya diarahkan untuk selalu mengarusutama tolong menolong, semangat mencari ilmu, menjadi pribadi jujur, dan tidak boleh berbuat jahat pada liyan. Tidak jarang dalam prosesi penyampaiannya menisbatkan sosok-sosok antagonis, salah satunya yaitu Fir’aun, sebagai cermin kehidupan.

Fir’aun adalah sebutan bagi setiap penguasa Mesir kuno. Jadi, entah siapapun sosok yang menjadi penguasa, serentak dengan itu, ia mendapat gelar “Fir’aun”. Pemahaman seperti ini yang nampaknya belum membumi di masyaarakat kita. Kebanyakan dari mereka masih menganggap bahwa Fir’aun yaitu nama asli dari seorang tokoh. Padahal hal tersebut adalah suatu hal kekeliruan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Istilah Fir’aun mulai populer setidaknya sejak bergulirnya hikayat Nabi Musa. Kemudian, “kepopuleran” Fir’aun semakin bertambah lantaran diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan Fir’aun dengan begitu gamblang dan detail. Fir’aun dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai sosok penguasa yang zalim dan kejam. Jabatan kepemimpinannya dimanfaatkan untuk melanggengkan berbagai kebijakan penuh penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap rakyatnya (bani Israel).

Sebagai sosok pemimpin, ia sangat jauh dari kesan ramah, humanis, dan memberdayakan rakyat. Kegelimangan harta dan kenikmatan duniawi yang dimiliki hanya diperuntukkan untuk hadun nafsi (mementingkan diri sendiri). Salah satunya, membangun istana megah. Sebagai perwujudan menebalkan garis demarkasi dengan siapaun. Dirinya mengklaim harus “berjaya seorang diri”. Tidak boleh ada entitas lain yang sederajat, apalagi menyainginya. Lebih parah lagi, ia mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah oleh semua rakyatnya.

Melihat situasi sudah sangat parah. Bahwa seorang hamba berlagak melebihi kodratnya sebagai hamba. Allah Swt kemudian mengutus Nabi Musa untuk membawa misi perubahan melawan otoritarianisme dan kemusyrikan menuju pada tatanan pembebasan sosial dan penuh ketauhidan. Dengan bekal membawa bukti keterangan-Nya yang nyata, para umat bani Israil berhasil dibujuk untuk mengikuti ajarannya. Namun, saat berdakwah mengambil hati Fir’aun untuk beriman pada Tuhan (Allah Swt), acap kali menemui kebuntuan. Fir’aun masih bersikukuh pada pengklaiman dirinya sebagai Tuhan.

Hingga pada puncaknya, ketika Nabi Musa berhasil mendapatkan kitab Taurat, ia kemudian menghadap Fir’aun kembali untuk mengajak beriman sembari menyampaikan Taurat yang dibawanya, kitab Suci dari Tuhan (Allah Swt) untuk umat. Mendengar hal tersebut, Fir’aun langsung murka dan mengancam Nabi Musa. Nabi Musa mendapat perintah untuk meninggalkan Mesir. Lalu bergegaslah pergi menyelamatkan diri.

Kemanapun pergi, Fir’aun dan pasukannya tetap mengejar rombongan Nabi Musa. Derap langkah terhenti di depan Laut Merah. Tidak aja jalan lain. Yang tersisa hanyalah lautan berisikan air. Atas kehendak Allah, Laut tersebut terbelah membentuk jalanan. Tanpa berpikir panjang, Nabi Musa dan para peringkutnya segera menyeberang dan berhasil selamat. Nasib berbeda dialami Fir’aun dan pasukannya, ia terlelap di tengah lautan, karena atas kuasa Allah Laut tersebut tertutup kembali.

Begitulah kira-kira gambaran saat guru menceritakan sosok Fir’aun. Adapun pertanyaan siapa nama asli Fir’aun yang tenggelam kala itu, masih diperdebatkan kalangan sejarawan dan ahli agama. Ada yang menaksir Fir’aun Ramses II, ada juga yang menyebut Fir’aun Marneptah. Terlepas dari itu semua, Al-Qur’an secara sengaja memang menyembunyikan nama-nama Fir’aun tersebut. Sebab, maksud al-Qur’an adalah bukan mau ghibahin orang buruk, tetapi yang utama dalam rangka sebagai pijakan dan ibrah bagi manusia mendatang.

Tinggalkan Balasan