Jangan-Jangan, Kita Adalah Neo-Fir’aun

Kelima, dalam QS Az-Zukhruf ayat 54 dan Al-Mu’minun ayat 47, Allah menyebut sifat Fir’aun adalah memperbudak orang.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, senioritas menindas inferioritas, kakak yang merundung adiknya, suami menjajah istrinya dan sebaliknya, bahkan memanfaatkan kebaikan orang lain disuruh untuk membelikan keinginan pribadinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keenam, dalam QS Al-A’raf ayat 132, Fir’aun berkata, bukti apapun yang dibawa Nabi Musa, ia tetap tidak mempercayainya.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, ketidaksukaan pada seseorang menjadikan kita menutup diri menerima apapun dari orang tersebut, meskipun itu adalah kabar gembira, bingkisan oleh-oleh dan lain sebagainya.

Ketuju, dalam QS Ad-Dukhan ayat 31, Allah menyebut sifat Fir’aun adalah sombong.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, disaat memiliki barang bagus, ranking kelas, prestasi kelulusan/wisuda, dapat pekerjaan, naik jabatan, harta banyak lalu di pamerkan lewat maya ataupun nyata. Musabab tidak bisa mengontrol hawa nafsu, alih-alih tahadduts bin ni’mah justru terperosok pada riya’. Jangan-jangan, adalah kita, saat memiliki teman, rekan kerja baru, teman-teman yang lama sudah tidak dianggap lagi.

Kedelapan, dalam QS Az-Zukkruf ayat 52, Fir’aun sangat merasa lebih baik dari daripada Nabi Musa.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, orang yang memiliki “penyakit merasa paling” (merasa paling baik, paling berderajat, paling sholeh, paling pinter, paling mahfum dan merasa paling lainnya).

Tinggalkan Balasan