Jangan-Jangan, Kita Adalah Neo-Fir’aun

Namun sebenarnya, di era kini, apakah “Fir’aun-Fir’aun masa kini” itu ada? Bagaimana wujud dan karakteristik dari Fir’aun tersebut?. Perlu penelaahan dalam mendedah Neo-Fir’aun, individualis masa kini yang karakter, pemikiran, sifat, dan sikap bersesuaian dengan sosok Fir’aun. Jadi, siapakah sosok Neo-Fir’aun era kontemporer ini?

Pertama, Fir’aun semasa hidup mengklaim dirinya Tuhan dan penuh arogansi. Namun, di akhir hayatnya, ketika hampir (mati) tenggelam di Laut Merah, ia mendadak ingn bertobat, bersaksi mempercayai Tuhan yang dipercayai Nabi Musa dan bani Israil. Namun hal tersebut terhalang oleh Malaikat Jibril yang menyumpal mulut Fir’aun dengan pasir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, orang yang sekarang secara sadar sedang asik menikmati materialistik, dan bermaksiat. Adapun momen pertobatan menunggu saat memasuki usia senja.

Kedua, dalam QS Al-Qashash ayat 4, Allah mensifati Fir’aun sebagai sosok memecah belah. Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, ikut terbawa arus memainkan peran dalam politisasi identitas. Disisi lain juga mengukuhkan sikap daulisme dalam suatu organisasi, komunitas, ataupun instansi.

Ketiga, dalam QS Al-A’raf ayat 123, Fir’aun tidak memberikan izin kepada para penyihir untuk beriman, dan berniat akan mengancam para penyihir jika hal tersebut dilanggar.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, tidak memberikan izin pada istri, adik, atau anggota keluarga mengeksplor dirinya ke dunia luar (berkarir) untuk kebaikan. Padahal hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Keempat, dalam QS Ghafir ayat 29, Fir’aun memiliki sifat tidak mau mendengar pendapat orang lain.

Jangan-jangan, Neo-Fir’aun adalah kita, setiap kali melontarkan argumen pendapat dan ada yang menyanggah, kita malah acuh dan cuek. Setiap kali ada teman yang memberi masukan untuk diri kita, kitanya malah jadi sinis.

Tinggalkan Balasan