Jebakan Popularitas

Artinya: “Tanamlah keberadaanmu di tanah ketidakterkenalan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa tertanam, tak akan sempurna buahnya.”

Kalimat ini seolah berbicara langsung pada kita hari ini. Dunia digital mendorong setiap orang untuk menampakkan diri, berlomba muncul di layar, seakan yang tidak terlihat itu tidak ada. Padahal, menurut para sufi, justru yang tersembunyi itulah yang tumbuh paling subur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keheningan bukan tanda kekalahan, tapi ruang pertumbuhan. Popularitas yang muncul tanpa akar keheningan ibarat pohon yang tumbuh di atas pasir—tinggi sebentar, lalu tumbang bersama angin kecil.

Fondasi Tertimbun, Menara Menjulang

Dalam dunia arsitektur, semua orang memuji menara, tapi jarang yang memikirkan fondasinya. Padahal, semakin tinggi bangunan, harus semakin dalam pula galian yang harus dibuat ke bawah untuk menanam fondasi.

Analogi ini sangat sufistik: ketinggian ruhani hanya bisa dicapai oleh kedalaman batin. Menara ilmu tanpa fondasi adab akan retak. Menara dakwah tanpa fondasi keikhlasan akan runtuh.

Ketenaran memang seperti menara—terlihat menjulang, disorot lampu, difoto ribuan orang. Tapi fondasinya, yaitu keheningan hati, justru tertanam dalam tanah, tak terlihat siapa pun. Dan di situlah sejatinya kekuatan bertumbuh.

Bagi seorang santri, keheningan adalah tanah tempat ilmu bersemi. Di sanalah tumbuh kerendahan hati, kesabaran, dan ketulusan yang tidak bisa diukur dengan jumlah penonton.

Fenomena Gus El sejatinya bukan sekadar kisah satu individu. Ia adalah cermin dari kegelisahan kolektif. Kita hidup di zaman di mana orang takut tidak dikenal, seolah-olah yang tidak muncul di layar berarti tidak eksis. Dianggap tidak ada.

Tinggalkan Balasan