Ironinya, justru dari keheningan pesantren dulu lahir para kiai besar. Mereka tidak mengejar panggung dan kamera, tapi dikejar oleh umat. Mereka tidak memoles kata, tapi memperhalus hati. Kini, dunia terbalik: yang berilmu memilih diam, yang berisik menguasai podium.
Namun sebelum menuding siapa pun, kita perlu bercermin: bukankah secara tidak sadar kitalah yang menciptakan ekosistem ini? Kita yang lebih suka menonton yang gaduh ketimbang mendengarkan yang dalam. Kita yang menjadikan kontroversi lebih menarik daripada kontemplasi.

Menemukan Keheningan yang Mengakar
Dalam Islam, ketenaran bukanlah tujuan dalam berdakwah. Bahkan jika tidak berhati-hati akan berpotensi menimbulkan fitnah—ujian yang halus. Dalam agama kita, ditemukan banyak riwayat bahwa bukan popularitas yang menjadi tanda keberkahan, melainkan keikhlasan dan kerendahan hati — dan bahwa cinta dunia dengan segala atribusinya adalah salah satu bentuk ‘wahn’ atau sejenis penyakit hati yang sangat dikhawatirkan Nabi Muhammad SAW. Karena ketenaran bisa membuat seseorang kehilangan dua hal paling mahal dalam perjalanan ruhani: keikhlasan dan kesadaran diri.
Menjadi dikenal bukan dosa, tapi menjadi tergantung pada pengakuan orang lain adalah belenggu. Haus validasi adalah salah satu penyakit psikologi yang butuh diobati. Orang yang ikhlas tidak sibuk menjaga citra, tapi menjaga makna. Ia tidak sibuk menambah pengikut, tapi memperbaiki hubungan dengan Allah dan bermanfaat kepada sesama.
Maka, tugas seorang “Gus”, “Ustaz”, atau siapa pun yang tampil di ruang publik, bukanlah menjadi ikon viral, tetapi menjadi penyejuk arus kehidupan yang semakin bising. Ia bukan gas yang mempercepat, tapi kopling yang mengatur ritme, serta rem yang menenangkan.
Di tengah dunia yang serba cepat ini, barangkali kita semua perlu menanam diri kembali — seperti pesan Al-Hikam: “tanamlah keberadaanmu di tanah khumul.”
Sebab dari tanah keheningan itulah tumbuh ketenangan yang tahan lama. Ketenaran datang dan pergi, tapi keheningan akan tinggal di hati mereka yang mengenal makna. Mungkin benar, zaman ini menghargai yang nyaring, tapi Allah selalu melihat yang ada di dalam. Yang benar-benar tinggi tak merasa tinggi, sebab ia tahu: akar selalu bekerja dalam diam.
