Jelang Kematian Mbah Dayat

Mbah Dayat terkulai, tergeletak di kasur kapuk dengan dipan reyotnya. Napasnya kembang-kempis, berembus pun sudah jarang-jarang. Tubuhnya layu, berbalut tulang dengan daging yang sudah tipis. Ubannya sudah penuh, tumbuh rapuh meski tinggal beberapa helai di sudut-sudut kepalanya. Umurnya sembilan puluh tahun lebih, perkiraan dari para tetangga-tetangga sekitar. Maka, tak heran Mbah Dayat sudah pantas untuk menghadap kepada Sang Pemberi Nyawa.

Kedua tangan dan kakinya sudah tidak bisa digerakkan. Lumpuh dan mengecil, hanya seukuran bilah bambu. Perutnya sudah mundur ke belakang, membentuk lubang pertanda ususnya sudah lama tidak menyimpan makanan. Matanya selalu tertutup, kadang berair, entah itu air mata atau apa. Tiba-tiba mengalir saja di sela pojok matanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mulut Mbah Dayat tertutup separo, sering air liurnya tanpa kendali menetes. Dadanya membentuk goretan-goretan tulang rusuk yang tampak sekali terlihat. Pipinya kempong seperti lekuk tanah melandai. Guratan-guratan usia terlipat dalam lekukan-lekukan di dahinya. Mbah Dayat hidup, tapi tidak seperti hidup. Meninggal? Belum. Hanya sepertinya sudah bersiap meninggalkan jasad berpisah dengan ruhnya.

Kedua anaknya bergantian menjaga Mbah Dayat. Menjaga bergantian, untuk njagani kalau tiba-tiba Mbah Dayat meninggal tanpa diketahui. Sudah satu bulan, Mbah Dayat dengan kondisi seperti itu. Tergeletak tanpa daya. Koma!

***

Mbah Dayat adalah rujukan tetua kampung. Tetua karena sudah tua, sepuh. Paling tua! Namun jiwa petaninya tidak tergoyah, tak tergulung termakan usia. Mbah Dayat orang yang tekun, masih terjun sendiri ke sawah untuk membuat petak-petak, menyiangi rumput, menyemai, sampai tiba senyum masa panen padi tiba.

Namun, kemarau tahun ini sulit diajak kompromi. Sampai jelang Desember pun hujan di kampung enggan mampir untuk sekadar bertamu. Sawah Mbah Dayat, begitu juga sawah-sawah lain di kampung, tampak tanahnya pecah-pecah, mlethek-mlethek saking keringnya. Memang, sesekali gerimis palsu sudah turun, tetapi hujan lebat belum ingin mencurahkan kesegarannya. Sungai-sungai di dekat sawah yang biasanya dialirkan bergantian ke terasiring-terasiring sawah di sampingnya, belum ada air sedikitpun yang menggenang untuk mengaliri.

Mbah Dayat menatap kosong keadaan sawahnya. Sambil terbayang hijaunya padi berjejer rapi berbaris memenuhi petak-petak sawah. Simpul senyum kelegaan karena sebentar lagi padi akan menguning. Menunggu tiga bulan sebelum panen. Cukuplah tabungan beras untuk satu tahun.

Petani di kampung ini menanam padi bukan untuk mencari untung dengan pundi-pundi uang yang dihasilkan dari karung-karung gabah yang dijual. Cukuplah tidak membeli beras setahun, itu sudah menjadi prestasi, lebih dari cukup! Hanya sisa sedikit beberapa karung gabah, untuk dijual atau celengan jika saudara atau tetangga yang hajatan. Belum lagi, jika masa tandur tiba, para petani harus, tidak bisa tidak, menyiapkan bibit, pupuk, obat semprot anti hama, dan kebutuhan sawah lainnya. Yang jika dikalkulasi matematis, laba dari menanam padi teramatlah tipis bahkan cenderung tekor. Tapi, begitulah kehidupan petani di kampung ini, merasa ayem-tentrem jika sudah bisa menanam padi. Memakan nasi hasil dari gabah sendiri.

Mbah Dayat menyeka keringat berulang kali di dahinya. Hari menjelang zuhur, terik matahari sakit mencubit kulit keriput Mbah Dayat. Mbah Dayat pelan melangkahkan kaki pulang ke rumah. Sesampai di rumah, Kepala Mbah Dayat terasa berat, matanya mengerdip menahan sakit, tubuhnya gontai. Mbah Dayat lemah, mengeluh kepada Kang Tarji, anaknya.

“Le… kepalaku ko mumet yo,” sambatnya. Kang Tarji segera memapah bapaknya. Diimintanya, Mbah Dayat membujurkan badannya di ranjang, kemudian Mbah Dayat tidak sadarkan diri sampai seperti sekarang terlihat.

***

Di ruang tengah, tampak dua anaknya sedang berembuk perihal keadaan Mbah Dayat.

“Kang, pak e sudah satu bulan seperti ini. Kita bawa ke rumah sakit atau ke orang pintar, bagaimana?” tanya Kang Tarji, anak paling tua.

“Percuma, kalau di bawa ke rumah sakit. Toh, usia bapak memang sudah uzur, tinggal menunggu waktunya saja,” Marji menimpali.

Tinggalkan Balasan