Jelang Kematian Mbah Dayat

Pak Modin mencoba memberanikan diri. “Anu, Kang, apa Mbah Dayat punya ganjalan pikiran atau beban apa ya..yang bisa membuat hatinya belum tenang. Pembagian warisan, misalnya?”

Kang Tarji dan Marji berpandangan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Alhamdulillah, Pak. Sedari kami menikah, bapak sudah membagi warisan tanah kepada kami berdua. Insyaallah kami sebagai anaknya ikhlas menerima. Sawah sekarang yang digarap, bapak berpesan ingin digarap sendiri, panenannya selama ini selalu dibagi untuk anak dan cucunya. Bapak juga berpesan, jika bapak nanti sudah meninggal, maka sawah tersebut diwakafkan untuk membangun diniyah dekat masjid. Insyaallah untuk duniawi, bapak tidak ada masalah,” Kang Tarji memberi penjelasan.

“Lalu, selanjutnya bagaimana, Ustaz, agar bapak jika atas kehendak Allah, masih hidup maka sehatkanlah, begitu juga sebaliknya dimudahkan jelang sakaratul maut, agar beliau tidak menanggung derita sebelum kematiannya? tanya Kang Marji.

Ustaz Imam mengembuskan napas begitu dalam. “Kita ikhtiar. Kita dasari semua dengan ketauhidan. Kang Marji carilah daun kelor. Potong beberapa dengan rantingnya sekalian. Pukulkan pelan-pelan ke tubuh Mbah Dayat. Kemudian tubuh Mbah Dayat dibaringkan di tanah, jangan di kasur. Sebab dari tanah kembali asal ke tanah. Ingat! Kita niatkan semata karena Allah, memohon apa yang menjadi penghalang dari Mbah Dayat segera dihilangkan.”

“Lalu, secara agama, bagaimana Ustaz?” tanya Pak Modin.

“Hadis ini ada yang menganggapnya dhaif. Namun, sebagai umat kita diwajibkan berusaha dan bertawakal. Kita bacakan Mbah Dayat Surat Yasin empat puluh kali dan menuntun dengan kalimah tahlil sampai tujuh hari. Kita niatkan betul-betul, tawakal dengan sepasrah-pasrahnya kepada yang Maha Menghidupi. Semoga Mbah Dayat jika masih dikehendaki hidup, maka Allah akan segera menyehatkan. Jika, memang menjadi takdir beliau untuk menghadap, semoga dimudahkan.”

“Dilematis, Ustaz! Bagaimana jika penduduk menganggap ini jalan untuk mempercepat kematian Mbah Dayat? Atau anggapan bahwa usaha kita ‘menyuruh’ Allah untuk segera mempercepat, menyegerakan takdirNya?” Pak Modin mengklarifikasi.

“Iya, aku paham akibatnya. Nanti aku akan menjelaskan kepada warga, jika yang dilakukan ini adalah sebagai jalan untuk menuntun Mbah Dayat menuju khusnul khatimah. Kita niatkan sebagai talqin, menghalau… agar setan-setan yang mencoba menggoda Mbah Dayat meninggal dalam keadaan tidak beriman, Mbah Dayat bisa menjaga kematian dalam keadaan yang baik.”

Sudah dua hari bacaan Yasin dan tahlil dilakukan sebagai bentuk ikhtiar. Hari ketiga, langit gelap. Angin menderu cukup kencang, sesekali terdengar gluduk. Warga tampak terlihat acuh, karena sebelumnya juga seperti itu, tapi hujan yang diharapkan belum juga turun.

Bakda Isya, jamaah undangan bersiap mengikuti arahan Ustaz Imam. Selesai membaca Yasin empat puluh kali, hujan turun sangat lebat. Deras sekali. Gerimis diselingkuhi, karena gerimis pertanda akan hujan diabaikan. Hujan tanpa rintik gerimis.

Kehendak Allah. Mata Mbah Dayat terbuka. Marji yang sedang berada di dekatnya, segera berteriak kecil memanggil Kang Tarji dan Ustaz Imam. Mbah Dayat menatap sejenak sekeliling. Memandang lama dua anaknya. Tanpa diminta, Kang Tarji dan Marji mendekatkan telinga ke mulut bapaknya.

“Alhamdulillah, hujan yo le… Besok bisa nandur pari,” lirih Mbah Dayat berpesan.

Ustaz Imam segera mendekat, menuntun Mbah Dayat. “Nyebut, Mbah…. nyebut..Lailahaillallah, Muhammadarrasulullah…” berulang-ulang Ustaz Imam mencoba menuntun.

Mbah Dayat mengikuti perlahan, kemudian mengatupkan matanya dan tidak terbuka lagi. Damai, adem-ayem, membayang padi-padi akan bisa disemai, tumbuh, dan dipanen. Tentrem.

Tinggalkan Balasan