Jelang Kematian Mbah Dayat

“Hush! Hati-hati bicaramu, jangan nglamak! Pak e memang sudah tua, sudah waktunya tutup usia, sebagai anak kita tetap harus menghormatinya.”

“Maka dari itu, lebih baik kita minta petunjuk ke orang pintar atau pak kiai, apa yang harusnya dilakukan dengan bapak dengan kondisi seperti ini.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Baiklah, besok kita temui Ustaz Imam, minta petunjuk kepada beliau.”

Malam ini giliran Marji menunggui bapaknya. Jam berdetak memutar menuju angka dua belas. Marji gelisah, tidak bisa tidur. Sesekali menengok Mbah Dayat, sambil didekatkan jarinya ke hidung bapaknya, masih berembus. Selang beberapa menit, Marji kaget. Mbah Dayat berhenti bernapas. Dipastikan dengan mendekatlan lagi jari ke depan hidung Mbah Dayat, tidak ada embusan napas yang terasa.

Marji membangunkan istrinya, diminta untuk merapikan posisi tidur bapaknya. Sementara Marji berlari menuju rumah Kang Tarji, kakaknya. Sayup-sayup takmir melalui toa musala mengabarkan kematian Mbah Dayat. Beberapa penduduk kampung bergegas menuju kediaman Mbah Dayat untuk melakukan persiapan penguburan orang yang paling tua di kampung.

Ustaz Imam dan modin kampung mendekati tubuh terbujur Mbah Dayat. Telapak tangan Ustaz Imam memeriksa untuk memastikan. Mengusap dahi sampai muka sambil melafazkan innalillahiwainnailaihirajiuun.

Beberapa detik kemudian, Ustaz Imam terkejut saat hendak merapikan selimut Mbah Dayat. Mbah Dayat bernapas lagi. Tubuhnya yang semula dingin, berangsur hangat, namun tetap diam. Kematian Mbah Dayat dibatalkan. Ustaz Imam dan Pak Modin sebentar berembuk. Kemudian menyuruh beberapa penduduk kampung untuk kembali ke rumah, karena Mbah Dayat belum meninggal.

“Kang Marji dan Kang Tarji, Mbah Dayat masih bernapas..Belum meninggal. Jadi, apa ada hal yang mau disampaikan?” tanya Ustaz Imam.

“Saya belum bisa memastikan, Ustaz. Kata orang-orang tua dulu, bapak ikut berjuang melawan Belanda. Apakah ada jimat, khodam, atau kanuragan apa yang mungkin menghalangi kematian bapak…” Kang Tarji mencoba berpendapat.

“Bisa juga, Kang. Orang-orang dahulu masih awam, masih banyak yang fasik, belum begitu mengenal tentang agama. Jadi, masih banyak yang pakai susuk, jimat, bertapa di tempat wingit untuk mendapatkan kesaktian, kerja sama dengan jin, atau yang lainnya.”

Kang Marji ikut bersuara, “Tapi Ustaz, jika memang bapak punya hal-hal seperti itu, apakah tidak bisa luntur? Mengingat bapak meski tidak ahli agama, tapi beliau rajin sedekah dan salat.”

“Insyaallah, jika Allah mengizinkan, hal itu akan mempermudah. Saya ingat betul ketika masih kecil, Abah saya didatangi tamu entah dari mana. Kemudian diajak tamunya berjalan mengelilingi kampung. Tiba-tiba tamu itu berhenti dan menunjuk pada lahan ilalang yang tidak terurus kemudian tamu tersebut berujar, ‘Kelak di sini akan berdiri masjid yang megah!’ Mustahil sekali..Mengingat waktu itu kampung ini masih abangan.”

“Betul itu, Ustaz,” Pak Modin ikut memberikan saran.

“Mbah Dayat tanpa ada angin menyapa, mendatangi abahnya Ustaz Imam, kemudian mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Maka, berdirilah masjid pertama di kampung ini.”

“Subhanallah…,” bebarengan Kang Tarji dan Marji berucap.

Tinggalkan Balasan