Tentu, dosa besar rasanya jika momentum hari santri ini hanya bisa berhenti pada taraf seremonial saja, tapi tidak ada impact lebih yang bisa diberikan santri pada negeri ini. Pastinya, baik disadari atau tidak, paradigma untuk menjadikan hari santri hanya sebatas seremonial perlu dibuang jauh-jauh. Jika tidak, ini tidak lain akan menjadi akhir dari dunia santri selama ini.
Namun sebelum paradigma itu mendarah-daging, sepertinya Kementrian Agama (Kemenag) sudah bisa menebak dan merasakannya. Artinya, memang diperlukan terobosan-terobosan yang inovatif untuk mengembalikan marwah santri sebagai entitas yang tidak bisa dilepaskan dari kemajuan dan peradaban bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat setidaknya dari tema yang diangkat untuk memperingati Hari Santri Nasional tahun ini yakni “Jihad Santri Jayakan Negeri”. Tema ini tentu akan melahirkan penafsiran yang beragam, dan yang pasti tema ini berusaha membangunkan tidur kaum santri dan mengajak untuk bersama-sama berjihad (berjuang) menjayakan negeri ini.

Jihad dalam Islam, biar bagaimana pun akan selalu menuntut pada tindakan baik yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Begitu pun dalam konteks Hari Santri Nasional, jihad harus bisa dikontekstualisasikan dengan zamannya. Artinya, jihad santri dalam hal ini tidak bisa diartikan sebagai jihad yang dilakukan persis santri mengusir penjajah kala itu, tidak. Lalu yang menjadi tanda tanya besar jihad seperti apa yang bisa sesuai dengan zamannya? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan dengan menghidupkan dan menggalakkan tradisi tulis-menulis dari pesantren.
Harus diakui, di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat ditambah dengan pemanfaatan media secara digital, masyarakat selalu disuguhi informasi terkait propaganda, ujaran kebencian, hoaks, dan sebagainya. Hal tersebut jelas menambah rentetan masalah di negara ini dan tidak boleh dibiarkan begitu saja seumpama air keruh yang mengalir ke muara. Oleh karenanya, santri sebagai kaum terpelajar yang paham betul akan bahayanya hal tersebut, harus menjadi garda terdepan untuk bisa meluruskan informasi yang beredar dengan cara memberikan pemahaman secara utuh melalui gerakan literasi pesantren.
