Jodoh Sejati

rentang usia, ingin membenang kasih adam kepada hawa

menyulam kisah cantik, sesembahan setia

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

belah dua tanganmu menerima

menjadi penting atas ikhlas yang menjadi irama

dan, kembali untukmu, calon garwa

sudilah menerima

hamba meminta

atas nama takdir dan cinta

Amboi, Zain mendadak menjadi sastrawan. Puitis romantis nan pandai meliukkan kata. Alfi yang menjadi tujuan pertamanya.

“Al, sesuai janjiku tiga hari lalu. Terimalah hadiahku. Semoga kamu berkenan menerimanya,” berkatalah Zain sambil menyerahkan kado cantik berbalut kertas kado merah muda.

“Mas Zain sungguh menepati janji. Padahal Alfi tidak mengapa jika tidak menjadi nyata,” Alfi tersipu malu, sambil menerima kado pemberian Zain.

“Al, aku lelaki. Apa yang menjadi janji, usaha kerasku untuk memenuhi. Entah terwujud atau tidak, yang penting aku bersikeras menepatinya.”

Alfi merona pipinya, “Terima kasih, Mas Zain. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.”

Selesai dengan Alfi, Zain bergegas menemui Aida untuk memberikan hadiah yang dijanjikan. “Aida, seperti yang aku bicarakan kemarin. Aku mohon terimalah bingkisan ini. Sekadar untuk memuaskan keinginanku demi untuk membuatmu terkesan,” berkata Zain penuh harap.

Aida tersenyum, sembari menerima bingkisan tadi. Dibuka dan dibacanya untaian puisi yang dibuat Zain.

“Aduuhh, Mas Zain ini pandai merangkai kata. Rayuannya maut. Sampai terlena aku dibuatnya.”

Zain ganti tersipu. Kemudian, Aida mengeluarkan bungkusan.

“Mas Zain, perhatianmu tentang jilbabku yang telah pudar, membuatku haru. Sementara keinginanmu sendiri untuk membeli sepatu kau urungkan. Jadi, kerelaanmu Aida ingin menggantinya, terimalah ini..,,” berkata Aida sambil menyerahkan bungkusan yang rapi dibungkus.

Zain terkejut. Tambah terkejut hatinya, ketika membuka bungkusan tadi berupa sepatu. Zain tersenyum. Seperti menemukan jawaban dan tambatan. Ia kini seolah mengerti, kepada siapa ia menjatuhkan pilihan.

Suatu hari, Zain kembali mengobrol dengan Irul untuk bercerita perihal ta’arufnya kepada Alfi dan Aida. Irul terkesan, dengan cara Zain menentukan pilihan.

“Jadi, kau sudah menentukan pilihanmu, Zain?” tanya Irul.

“Insyaallah sudah. Meski sulit. Butuh penuh pertimbangan,” Zain menghela napas beberapa saat.

“Siapa?Alfi atau Aida?”

“Bukan, bukan keduanya.”

Irul kaget, “Loh, bukankah ceritamu tentang dua orang tadi?”

“Iya, tapi dari keduanya aku belajar. Alfi tentang penerimaan dan menghargai. Aida tentang kerelaan dan pengorbanan.”

Irul tambah penasaran, “Lalu pilihan kau jatuhkan kepada siapa?”

Zain tertahan sejenak, “Lia, Natalia. Ia jodoh yang aku pilih dan segera aku pinang. Janda beranak satu.”

Irul terbelalak, “Lia?!?”

“Ya, Lia. Ia bersedia menjadi mualaf. Menerimaku, menghargaiku. Ia rela dan berkorban. Begitu juga aku,” Zain menjelaskan.

Irul takjub. Ia memandang lekat sahabatnya. Zain telah menemukan tulang rusuknya yang hilang. Dinda yang dicari telah ditemukan. Melebihi cinta sejati. Tapi, kesediaan tentang penerimaan dan pengorbanan. Barakallahu ….

Tinggalkan Balasan