Zain tertunduk. Tidak salah dia memilih teman curhat, Irul. Kawannya yang pernah mengenyam pendidikan pesantren salafi. Bijak dalam usia muda. Jarang sekali ia temui. Berpengetahuan agama luas, tapi tidak dangkal pemikiran, tidak pula sempit pemahaman. Zain tertegun. Adakah yang salah dengan niatnya?
“Jadi, aku harus bagaimana, Rul?”

“Ta’aruf. Mendekati tapi bukan dengan berahi. Menyelami kedalaman cinta.”
“Terima kasih, Rul. Aku tahu! Kamu memang sahabat terbaikku,” Zain menyudahi curhatannya.
Ta’aruf menjadi jalan berikutnya. Takdir harus dijemput. Alfi ataupun Aida, keduanya sama-sama dalam kebaikan. Tapi, jodoh adalah yang terbaik. Jodoh akan datang menjadi hasil dari setiap doa dan usaha. Berserah; tawakal menjadi keridhaan yang didambakan. Dan, Zain ingin mengetahuinya.
“Assalamualaikum, Alfi,” sapa Zain.
“Waalaikumsalam mas. Ada apa ya?” Alfi dengan tersipu menjawab salam Zain.
Zain memberanikan diri, “Maaf sebelumnya ya, Alfi. Aku perhatikan tas kamu sudah usang. Tiga hari lagi, aku gajian. Bolehkah aku memberikanmu hadiah tas baru?”
Alfi terkejut, “Nggak usah repot-repot mas. Ini masih bisa dipakai kok. Mas Zain pakai saja untuk kebutuhan mas.”
Subhanallah. Bertasbih Zain dalam hati. “Memang, rencananya aku ingin membelikan kebutuhan. Lihat sepatuku juga telah usang. Namun, sudikah dirimu menerima pemberianku?”
Alfi tersenyum, “InsyaAllah…,” kemudian berlalu. Zain terpaku. Jawaban “insyaallah” menjadi misteri. Antara mau atau tidak. Zain juga berlalu, ingin mencari Aida.
“Assalamualaikum, Aida,” tegur Zain.
“Waalaikumsalam, mas Zain. Ada apa ya?” centil dan renyah sekali Aida membalas salam Zain.
Zain menjadi gugup ingin meneruskan. Terpesona. “Eh..ee..begini Aida. Maaf sekiranya aku tidak sopan. Aku lihat jilbab seragam perawatmu sudah pudar. Dan tiga hari lagi kita gajian. Bolehkah aku memberimu hadiah jilbab?”
Alfi cekikikan. “Ha-ha-ha..Mas Zain… Mas Zain. Perhatian sekali. Aida jadi malu nih. Nggak usah repot deh Mas. Kita masih sama-sama cari duit Mas. Santai saja. Nanti kalau sudah pudar beneran, benangnya sudah kelihatan, Aida pasti akan beli sendiri kok.”
“Maaf Aida, ini sudah niatku. Ingin memberikan kamu hadiah. Memang, awalnya aku ingin membeli sepatu baru. Tapi, aku ingin memberikan kesan kepadamu.”
“Aihh, Mas Zain romantis nih. Bagi Aida, setiap Mas Zain membantuku mengeluarkan sepeda matikku diparkiran, itu sudah berkesan lo.”
“Bisa saja kamu Aida. Ini aku sudah niat lo. Diterima ya.”
“Insyaallah,” jawab Aida yang kemudian berlalu dengan senyuman riangnya.
Dua kali Zain dapat jawaban “insyaallah”. Wanita memang rumit. Mistis. Jawabannya sering tidak jelas. Sering lupa menaruh pita rambut, tapi masih ingat ucapan pria sembilan tahun yang lalu, pada hari dan jam yang sama. Aneh tapi nyata. Misteri tapi tetap indah untuk didekati. Wanita.
Tiga hari berlalu. Sebelumnya, Zain bercerita perihal tersebut kepada Irul. Bahwa, jawaban Alfi ataupun Aida setelah menerima hadiah, juga menjadi jawaban Zain. Mana wanita yang terbaik untuk dirinya. Dan Zain siap akan meminangnya. Irul yang mendengar merasa galau pada sahabatnya. Entah jawaban apa yang dimaksud.Tibalah hari di mana Zain membawa hadiah untuk dua wanita yang membuatnya terpesona. Menenteng dua tas berisi tas baru dan jilbab baru untuk Alfi dan Aida. Di dalam bungkusan hadiah tersebut, Zain menyelipkan sebuah puisi:
Ku sapa dirimu, calon garwa
yang nanti menjadi sesandaran tresna
mohon legawa pangapura adinda
bila persembahan ini kurang memesona
mohon buka kedalaman manah dan pejamkan netra
maksud hamba, untuk menyuluh cinta agar menyala
karena pijar kalbu hamba butuh bara
mencari cahya dalam terang asmaradhana
mewarna, dengan harum kenanga
mewangi, dan ‘kan kuhirup tanpa jeda
