Jodoh Sejati

Pertanyaan yang paling membuat Zainudin resah dalam hidupnya selama ini adalah hal yang berkaitan dengan statusnya yang masih lajang. “Kapan menikah?” yang kadang ditambahi nasihat-nasihat yang menurutnya sudah basi adalah pertanyaan yang kerap menerornya. Pertanyaan serupa menyerbu dari berbagai penjuru, seperti “Eling umur, segera menikah! Tunggu apa lagi? Tunggu dunia kiamat?” “Menikah itu untuk menjauhkan diri dari zina, segeralah…” “Nggak usah bingung, takut nggak ada modal. Allah pasti akan menurunkan rezekinya.”

Selain nasihat, Zain juga kerap mendapatkan beberapa ledekan karena statusnya itu. “Sudah kepala tiga, kenapa nggak menikah? Tidak laku?” “Menikah kok nunggu mapan, mapan itu ya di kasur. Atau jangan-jangan kamu kelainan, Zain?” Semprul! “Kenapa nggak segera nikah? Ada gangguan kesehatan di anggota tubuhmu?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kadang Zain merasa pertanyaan dan ledekan teman-temannya sudah kelewatan. Kepala Zain cenut-cenut dengan rentetan teror tersebut. Biasanya Zain menggerutu, “Siapa yang tak ingin menikah? Siapa yang tak ingin berumah tangga? Aku manusia normal! Tidak perlu grusagrusu. Memang apa urusanmu! Apakah mungkin, kamu yang memberi susu atau pampers untuk anakku nanti! Aku memang belum siap untuk saat ini. Itu saja!”

Qurratu Al-Uyun karya Syekh Muhammad Tahami Ibnu Madani telah dipelajarinya, meski singkat ketika nyantri di pondok dulu. Kini, Zain yang sudah lulus dari Stikes, sudah tidak lagi nyantri. Sekarang, Zain bergelut dengan pekerjaannya menjadi perawat di Rumah Sakit. Maka, teori kitab itu menunggu untuk diimplementasikan dalam kehidupannya, yang nyata tapi dengan jodoh yang masih maya.

Zain menyibukkan diri, asik dan khusyuk dengan pekerjaannya. Ikhwal jodoh, tentu Allah sudah menggariskan di lauhul mahfudz. Dia akan menemukan pasangannya besok, awal September, beberapa tahun lagi, setelah purnama kedua belas, entah kapan. Zain menyerahkan semua pada Allah di bawah bayang-bayang pertanyaan yang kerap menghampiri: “Kapan menikah?”

Berguguran daun pertanda pergantian iklim. Suara jangkrik musim kering berganti dengan lantunan orkestra kodok di musim hujan. Daun putri malu masih malu mengatup terkena rangsang. Air kelapa masih saja terasa manis. Siulan burung gunung dan burung dalam sangkar terasa sama, tiada beda. Zain khusyuk menikmati tiap mantra dan keajaiban alam. Semakin sadar, hati harus diisi, tulang rusuk yang hilang harus ditemukan. Senyum manis tiap pagi, pertama kali ingin ia lihat dari bidadari pilihan. Usapan hangat menjelang lelap malam, ingin ia rasakan. Dan, cerita pun harus berganti.

Zain bersama Irul, mitra piket jaga malam, ingin melepaskan penat sejenak, setelah menyelesaikan tugas mengontrol pasien. Kantin 24 jam menjadi jujukan untuk sedikit menyandarkan lelah mereka.

“Rul, siapa itu yang membantu ibu kantin?” tanya Zain kepada Irul, setelah melihat sosok wanita yang baru saja membawakan kopi panas ke meja mereka.

“Oh itu, keponakan Bu Surti. Baru saja membantu di sini, kemarin mulainya,” jawab Irul. “Kenapa? Minat?”

“Ha-ha-ha, mentang-mentang kamu tahu kalau aku sedang mencari jodoh, lalu kau tanyakan itu. Aku bukan laki-laki gampangan. Siapa dia?”

“Halah… sok cool kamu. Namanya Lia, Natalia. Umurnya tiga tahun lebih tua dari kita. Eh, tapi dia janda beranak satu lo,” Irul menjelaskan.

“Ha! Janda?!” Zain terkejut. “Kamu kok tahu banyak, Rul?”

“Iya jelas tahu, Bu Surti kan teman baik ibuku. Kemarin waktu beli sayur, biasalah emak-emak, ghibah sana-sini, kebetulan aku mendengarkan karena disuruh ibu menemani.”

“Oohh, dasar tukang nguping! Emm, kenapa dia janda?” tanya Zain menyelidik.

“Suaminya tentara, meninggal saat ditugaskan di Papua.”

Innalillahi, ironis sekali. Semoga dukanya segera hilang.”

“Kenapa? Kamu tertarik? Janda lo.”

“Ada yang salah dengan janda? Atau jangan-jangan kamu sendiri yang tertarik dengan dia?”

“Hei, bukan itu masalahnya. Perhatikan benar-benar kalungnya,” kata Irul setengah berbisik kepada Zain. Zain dengan perlahan menolehkan leher dan menatap benar-benar. Demi melihat kalung yang tampak menggelayut di leher Lia, simbol dari salah satu agama, Zain paham maksud Irul. Lia balas menatap mereka, tanpa sadar. Mengembangkan senyum tipis yang dibalas rikuh oleh Zain dan Irul, di tengah alunan melodi klasik,

“Dinda di manakah kau berada, rindu aku ingin jumpa,

meski lewat nada, kau dengarkan, segenap rasa tertumpah..”

Zain merasa tersihir dan tersindir. Dinda yang menjadi jodohnya, di manakah kini engkau berada? Misteri ilahi tentang jodoh begitu rumit dan pelik. Kerinduan kasih sayang yang diidamkan, untuk menumpahruahkan segala keluh kesah. Dengan sapaan nan mesra, “istriku….”

Irul pernah bercerita, bahwa sebenarnya ada dua perawat yang memberikan “sinyal” pada Zain. Zain juga mengetahui. Hanya, menurut Zain, membawa perasaan di pekerjaan membuat rasa kurang nyaman. Dua bunga busana serba putih, memesona, juga berkepribadian yang karimah. Alfi, dara yang mengenal Zain sejak SMA, gadis berparas kalem, keibuan, lugu, polos, dan ayu tanpa make-up; Aida, modis, pintar menyesuaikan, mudah bergaul, centil tapi menyenangkan. Zain menyukai keduanya. Namun, baginya kedua dara itu adalah pilihan sulit. Menentukan mana yang dipilih untuk diseriusi. Skor berimbang, 0-0. Salat istikharah sudah dilakukan, salat hajat juga sudah dilaksanakan, namun Sang Pemilih Jodoh manusia masih menyimpan rapi jodoh, serangkai dengan rezeki dan pati.

“Rul, menurut kamu antara Alfi dan Aida, mana yang harus kupilih?” tanya Zain.

“Aduuhh, jodoh bukan untuk dipilih. Karena jodoh adalah anugerah, kawan!” Irul menanggapi.

“Maksudmu? Harus kupilih dua-duanya? Mana mungkin?” Zain bingung.

“Ha-ha-ha, bukan, bukan itu maksudku. Jodoh bukan hadiah, dia adalah anugerah.”

“Jadi?”

“Sapalah Allah penciptamu. Mintalah petunjuk. Ikhtiar sesuai anjuran agama.”

“Sudah! Aku sudah menyapa Allah dengan tahajud, hajat, dan istikharah. Adakah yang salah?”

“Salah? Bukan salah tentang salat-salat sunah tadi. Tetapi, niat kita dalam melakukannya. Ikhlas atau hasrat?”

Tinggalkan Balasan