Jurnalisme Ideologis Santri Siber

Tradisi Lisan dan Tabayyun

Ketidakseimbangan antara kepatuhan pada kode etik jurnalisme dan nilai-nilai luhur pesantren telanjur merajalela. Media massa dan media sosial belakangan dipenuhi pemberitaan negatif yang menyudutkan komunitas santri. Beberapa tindakan asusila yang dilakukan elite pesantren disorot dengan tajam. Salah satu dampak berita negatif adalah merosotnya minat belajar masyarakat ke pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di saat yang sama, keberpihakan terhadap prestasi dan pencapaian positif pesantren tidak mendapatkan perhatian yang seimbang. Kepedulian kiai kepada santri dan kontribusi pesantren kepada sosial ekonomi masyarakat sekitar tidak diberitakan dengan baik, untuk tidak mengatakan pemberitaan yang ada gagal meredam citra negatif yang terlanjur menjamur.

Dalam konteks ini, jurnalisme pesantren harus berideologi dan berpihak. Fakta-fakta negatif yang terjadi di pesantren memang tidak bisa dimungkiri. Namun bukan berarti tidak ada fakta-fakta lain sebagai penyeimbang. Untuk menggali fakta-fakta penyeimbang butuh energi besar, tenaga, dan pikiran. Tanpa dorongan ideologis yang kuat, kepedulian dan keberpihakan kepada kebenaran objektif akan mati suri.

Jurnalis santri memiliki khazanah yang kaya untuk menggali fakta positif dan objektif di pesantren. Tradisi lisan dan tabayyun merupakan instrumen penting untuk menggali informasi lain yang diabaikan. Obrolan santai di emperan masjid, di bilik kamar-kamar asrama dan sekolah membuat jurnalis santri memiliki kesempatan luas untuk tabayyun, verifikasi, dan konfirmasi.

Bermodalkan tradisi tabayyun, jurnalis santri dapat mempertahankan marwah pesantren sekaligus menjaga kode etik jurnalisme. Dalam rangka tabayyun ini pula, para perawi hadis zaman dulu terpaksa menunggangi unta menembus panas padang pasir, melintasi batas-batas wilayah kekhalifan, untuk mendapatkan kesahihan informasi hadis dan penilaian objektif terhadap perawi.

Tinggalkan Balasan