Tradisi jurnalistik bukan barang baru di pesantren. Periwayatan Hadis salah satu contoh tradisi sarjana muslim serius menekuni jurnalisme. Kritik sanad dan matan (takhrīj) membuat jurnalisme Islam bercorak ilmiah, berbasis skeptisisme dan verifikatif.
Seiring perkembangan pesat informasi dan teknologi komunikasi, jurnalisme (di) pesantren menghadapi tantangan baru. Arus deras informasi mendorong kritisisme santri ke puncak ekstrem. Nilai-nilai kebebasan, kemanusiaan, dan demokrasi semakin diganderungi layaknya junkfood.

Di satu sisi, gelombang informasi memberikan fasilitas, akses, dan data yang dibutuhkan dalam berpikir ilmiah. Santri bisa mempertanyakan ulang nilai-nilai tradisional pesantren, menuliskannya dan mempublikasikannya. Kritisisme bisa tumbuh subur dan nalar ilmiah bisa berkembang.
Di sisi lain, nilai-nilai dan perilaku-perilaku tertentu di lingkungan pesantren, yang selama ini didiamkan, menjad lebih rentan. Sebut saja prinsip sam’an wa tha’atan kepada kiai. Kepatuhan mutlak pada pimpinan pesantren tidak mudah berdamai dengan kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi.
Jurnalisme pesantren pada gilirannya terpenjara di antara dua kutub ekstrem, antara skeptisisme veritifikatif jurnalistik dan kepatuhan mutlak tradisional. Gagal menyeimbangkan dua kutub dapat merusak marwah pesantren dan kiai, atau membuat laporan jurnalistik omong kosong dan kepentingan pencitraan semata-mata.
Jurnalisme pesantren, dengan demikian, tidak beroperasi semata-mata di atas prinsip kebebasan pers, melainkan juga prinsip negosiasi antara skeptisisme jurnalistik dan kepatuhan mutlak kepada nilai-nilai kepesantrenan. Jurnalis santri mengabarkan fakta secara objektif dan kritis sekaligus menjaga aspek-aspek keluhuran tradisi pesantren.
Tradisi Lisan dan Tabayyun
Ketidakseimbangan antara kepatuhan pada kode etik jurnalisme dan nilai-nilai luhur pesantren telanjur merajalela. Media massa dan media sosial belakangan dipenuhi pemberitaan negatif yang menyudutkan komunitas santri. Beberapa tindakan asusila yang dilakukan elite pesantren disorot dengan tajam. Salah satu dampak berita negatif adalah merosotnya minat belajar masyarakat ke pesantren.
Di saat yang sama, keberpihakan terhadap prestasi dan pencapaian positif pesantren tidak mendapatkan perhatian yang seimbang. Kepedulian kiai kepada santri dan kontribusi pesantren kepada sosial ekonomi masyarakat sekitar tidak diberitakan dengan baik, untuk tidak mengatakan pemberitaan yang ada gagal meredam citra negatif yang terlanjur menjamur.
Dalam konteks ini, jurnalisme pesantren harus berideologi dan berpihak. Fakta-fakta negatif yang terjadi di pesantren memang tidak bisa dimungkiri. Namun bukan berarti tidak ada fakta-fakta lain sebagai penyeimbang. Untuk menggali fakta-fakta penyeimbang butuh energi besar, tenaga, dan pikiran. Tanpa dorongan ideologis yang kuat, kepedulian dan keberpihakan kepada kebenaran objektif akan mati suri.
Jurnalis santri memiliki khazanah yang kaya untuk menggali fakta positif dan objektif di pesantren. Tradisi lisan dan tabayyun merupakan instrumen penting untuk menggali informasi lain yang diabaikan. Obrolan santai di emperan masjid, di bilik kamar-kamar asrama dan sekolah membuat jurnalis santri memiliki kesempatan luas untuk tabayyun, verifikasi, dan konfirmasi.
Bermodalkan tradisi tabayyun, jurnalis santri dapat mempertahankan marwah pesantren sekaligus menjaga kode etik jurnalisme. Dalam rangka tabayyun ini pula, para perawi hadis zaman dulu terpaksa menunggangi unta menembus panas padang pasir, melintasi batas-batas wilayah kekhalifan, untuk mendapatkan kesahihan informasi hadis dan penilaian objektif terhadap perawi.
Tantangan Santri Siber
Sebagian pesantren kini memiliki laboratorium komputer dan santri dibebaskan menggunakan alat komunikasi. Dengan begitu penggunaan media sosial bukan lagi hambatan. Ada banyak peluang santri mengabarkan informasi penting tentang prestasi dan kontribusi sosial pesantren.
Satu-satunya yang kurang berkembang adalah keberpihakan ideologis para jurnalis santri. Dampaknya adalah media pesantren memang hidup namun tidak pernah duduk sejajar bersaing dengan media-media yang mendapat back-up atau dukungan korporasi. Masyarakat umum lebih mengenal media milik korporat daripada media pesantren.
Karena itulah, para santri siber perlu bersama-sama menggaungkan ekonomi politik berbasis keberkahan. Kita di pesantren dulu sudah terbiasa dengan konsep iuran dan donasi alumni. Bahkan beberapa santri yang lebih berpunya mewakafkan tanah dan gedung untuk kepentingan pendidikan pesantren. Perputaran ekonomi pesantren tidak semata-mata transaksi bisnis tetapi juga sebagai bentuk kontribusi spiritual.
Khazanah pesantren semacam itu akan berubah menjadi gelombang besar yang bisa menyaingi korporasi. Media pesantren bukan tidak mungkin bersaing dengan media milik korporat. Satu-satunya yang dibutuhkan adalah ideologi kolektif untuk menggerakkannya, membangun visi yang sama, dan keberpihakan kepada pesantren.
Pada kenyataannya, beberapa pesantren memang telah berhasil membangun ekonomi masyarakat, dengan menyelenggarakan pendidikan di setiap jenjang, layanan kesehatan, dan berbagai bisnis profitable lainnya. Satu-satunya yang belum nampak adalah korporasi pesantren yang bergerak di bidang media.
Alhasil, penulis sangat berharap jurnalisme pesantren betul-betul berideologi, yang tidak saja memperjuangkan nilai-nilai ideal tetapi juga bermanfaat bagi pengembangan ekonomi masyarakat. Bibit-bibit ideologis itu memang sudah ada, namun tidak sepenuhnya menjelma kekuatan besar yang tak terbendung.
