Kedua, “Nikah beda agama itu secara Islam hanya boleh kepada kafir kitabi, tapi sekarang kafir kitabi sudah tidak ada. Secara hukum positif di Indonesia jelas-jelas tidak ada legalitas, namun di kalangan akademisi masih menjadi pro-kontra. Meskipun, toh kamu menemukan pasangan nikah beda agama di Indonesia, kemungkinan salah satu di antara pasangan itu ngalah, sehabis itu ya kembali ke agamanya masing-masing.” Dengan damblang, Pengurus Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU ini memberi jawaban. Sedang para santri yang mendengar terlihat menyimak dan beberapa ada yang mencatat.
Terakhir mengenai perang Irak versus Kuwait. Saya diberikan kesempatan menjawab. Begini jawaban saya, “Irak versus Kuwait itu bukan perihal perang agama, itu lebih ke economic war, merebutkan minyak. Pemicu utama Kuwait menyedot minyaknya miring, nyedotnya memang dari atas tanah Kuwait tapi kedalamnya miring menuju ladang minyak Irak. Tentu Irak tidak terima, jadilah perang.” Tandas saya, tak berapa lama berselang, Ngaji malam itupun usai.

Selanjutnya, 10 santri tamu ini terbagi menjadi dua kamar. Besoknya, Kamis (26/10), mereka sudah bangun pagi, ternyata mendengar kebisingan kami yang subuh berjamaah. Setelah itu mereka mengunjungi tempat-tempat penting di Kampung Sawah, di antaranya mengunjungi Gereja Kristen Pasundan, Gereja Katholik Servatius, dan Pondok Pesantren Yasfi. Malamnya mereka kembali ke Pesantren kami, Aksara Pinggir.
Selesai makan malam bersama, mereka langsung bergabung dengan pengajian kami lagi, mengikuti istighotsah, dan ngaji Kitab Fathul Qorib sampai selesai. Bahkan, mereka turut membantu praktik wudhu yang kami adakan kepada santri kelas beginner. Tampak kecerian di antara raut muka remaja yang rata-rata tinggal di kompleks ini. Mereka juga cepat menyatu sama santri-santri Aksara Pinggir, padahal perbedaan di antara kita dan mereka tampak jelas, tapi itu bukan menjadi alasan di antara mereka untuk berinteraksi sesama masa depan bangsa.

