Tiba-tiba tawa Kiai Fatah berhenti. Raut mukanya pun berubah. “Sayang sekali kamu telat, Kang.”
Suasana ruang tamu semakin sunyi.

“Mala sudah dipinang seseorang. Seandainya kamu datang seminggu yang lalu mungkin dia bisa menjadi milikmu. Tapi sekarang benar-benar sudah telat. Kemarin Mala bahkan sudah menerima pinangan itu,” ucap Kiai Fatah getir.
Lidah Kang Syukri serta merta tercekat mendengar penuturan Kiai Fatah. Dia menelan ludah berkali-kali lantas mendesah.
Hari-hari Kang Syukri menjadi murung. Dia pulang kampung sehari menjelang hari raya untuk menengok pusara ayah dan ibunya. Dia kirimkan doa-doa untuk kedua orang tuanya itu sebagai pelepas rasa rindu. Ibunda Kang Syukri meninggal saat melahirkan dirinya, sedangkan ayahnya meninggal ketika dia baru dua tahun mondok.
Waktu terus berlalu. Dan kehidupan mengajarinya untuk berjiwa besar. Tidak mudah meratap dan sambat untuk kemalangan yang mendera hidupnya. Seusai mengirim doa, Kang Syukri lantas pulang untuk menengok rumah peninggalan orang tuanya. Dia dapati sebagian perabot rumah sudah dimakan rayap. Ingin sekali dia segera mendapatkan jodoh untuk kemudian menempati rumah warisan itu berdua. Angan-angannya terus mengajaknya berselancar. Dia berpikir, kelak istrinya akan melahirkan anak dan beranak-pinak melahirkan cucu di rumah sederhana ini. Kang Syukri lalu tersadar telah terlarut dalam tulul amal, panjang angan-angan. Istighfar mengalir dengan deras di bibirnya.
“Jadi lamaranmu telat Kri?” sahut Budi teman kecil Syukri tatkala menanggapi cerita Kang Syukri tentang perjalanan cintanya yang berakhir dengan kesedihan.
“Oalah Kri-Kri. Apa gunanya kamu mengabdi kalau kamu tidak dihargai begitu. Bukankah mudah saja sebenarnya bagi kiaimu itu untuk membatalkan pernikahan Mala? Seharusnya kamu yang sudah puluhan tahun mengabdi lebih diutamakan daripada orang lain,” Budi berpetuah.
“Bapakku memberiku nama Syukri agar aku menjadi orang yang bersyukur, Bud. Bukan orang yang suka menyalahkan keadaan,” Kang Syukri menjawab dengan bijak.
“Bapakku mengirimku ke pondok supaya aku mengaji dan mengabdi padi kiai, agar aku bisa mendapatkan ilmu yang hakiki. Dan ilmu yang hakiki mengajariku tidak untuk merasa memiliki, tapi merasa dititipi. Mengabdi kepada kiai bukan untuk mendapatkan balasan materi. Tapi dari mengabdi pada kiai aku belajar untuk ikhlas, termasuk ikhlas saat kehilangan orang yang aku kasihi. Kalau aku tidak ikhlas atas keputusan kiai, bisa saja aku akan kehilangan semua ganjaran pengabdianku. Sebaliknya, jika aku ikhlas, Allah itu dzat yang paling tahu cara membalas kebaikan hamba-hambanya. ”
Budi mengangguk-anggukkan kepala mendengar ceramah Kang Syukri. Perbincangan kemudian terhenti karena telepon jadul Kang Syukri berdering. Dia lantas terkejut sekali ketika melihat ternyata Kiai Fatah yang sedang meneleponnya. Dadanya berdebar tidak karuan menantikan kabar yang akan disampaikan kiainya itu.
“Sepertinya kiaimu berubah pikiran Kri. Mala akan jadi milikmu,” celetuk Budi.
Tanpa menggubris ucapan teman lamanya itu, Kang Syukri langsung mengangkat telepon.
“Wonten nopo, Yai?” tanya Kang Syukri dengan suara gemetar.
“Kang Syukri, kalau pulang ke pondok sekalian tolong belikan bumbu soto lagi ya.”
Kang Syukri meneguk ludahnya sendiri lantas tersenyum penuh arti.
