Kang Syukri yang Selalu Bersyukur

“Ada apa Kang Syukri?” tanya Kiai Fatah tatkala melihat gelagat aneh santrinya itu. Biasanya Kang Syukri akan dengan mudah mengutarakan maksud hatinya tatkala berada di depan Sang Kiai. Tapi kini khodimnya itu terlihat ragu untuk berbicara.

“Nganu Kiai. Saya bermaksud mengambil Mbak Mala menjadi pendamping hidup saya,” akhirnya Kang Syukri mampu bersuara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Pendamping hidup? Hidupmu mau ke mana Kang kok butuh didampingi?” Kiai Fatah mencandai Kang Syukri. Pemuda itu gelagapan harus menjawab bagaimana.

“Sudah pingin nikah to Kang?”

Kang Syukri menyahut pertanyaan kiainya itu dengan senyuman malu-malu.

“Mala itu siapa?” Kiai Fatah melanjutkan pertanyaan.

“Santri khodimah yang ngurusi keperluan dapur, Kiai,” sahut Kang Syukri sambil menunduk.

“Kok sampai tahu Mbak Mala? Sudah pernah lihat orangnya?”

“Dengar suaranya sering Kiai, setiap hari,” Kang Syukri menjawab.

Kiai Fatah tertawa. “Sudah pernah lihat orangnya apa belum?” ulang Kiai Fatah.

“Belum, Kiai.”

“Kok berani-beraninya mau menikahi orang yang belum pernah dilihat?”
Kang Syukri tak mampu menjawab. Suasana ruang tamu tempat terjadinya percakapan itu berubah sunyi senyap. Di antara perempuan yang pernah dilihatnya adalah Ning Farha, putri Kiai Fatah yang sangat cantik itu, tapi tidak mungkin Kang Syukri berani mencintainya. Tidak sekufu. Baginya, sebaiknya tidak usah mencintai seandainya tidak bisa memiliki.

“Kang, kok kamu berani mencintai orang yang belum pernah kamu temui? Ini sungguh-sungguh apa tidak, Kang? Nikah itu perkara serius, Kang, tidak boleh asal-asalan biar tidak menyesal kemudian.”

“Sungguh-sungguh, Kiai. Allah yang belum pernah kulihat juga aku cintai. Cinta masalah perasaan, Kiai, bukan masalah penglihatan,” tegas Kang Syukri. Kiai Fatah bagi Kang Syukri sudah seperti orang tuanya sendiri karena semenjak kecil dia sudah menjadi khodimnya. Sebelum wafat Pak Syarkawi, ayah Kang Syukri itu memasrahkan Syukri kecil kepada Kiai Fatah untuk dididik dan supaya menjadi khodimnya.

Kiai Fatah lagi-lagi menimpali ucapan Kang Syukri itu dengan deraian tawa. Kang Syukri bingung, mungkinkah dia salah bicara? Tapi melihat raut cerah gurunya itu dia kembali merasa tenang.

Tinggalkan Balasan