Kang Syukri yang Selalu Bersyukur

Kang Sukri. Nama itu sangatlah terkenal di seantero pondok Futuhiyah. Dalam sehari speaker pondok bisa memanggil nama itu sampai berkali-kali, hanya karena kiai sering mencarinya. Dia adalah seorang santri khodim Kiai Fatah yang sudah bertahun-tahun mengabdi. Kata “syukri” yang tersemat sebagai namanya berarti syukur.

Jika ditinjau dari segi ilmu nahwu dan sorof, kata “syukri” bukan berarti berkedudukan khofad walaupun berakhiran dengan bunyi “i” atau tanda kasroh yang menjadi ciri khusus i’rob khofad. Hal ini karena i’rob jer atau khofad menunjukkan kedudukan yang selalu di bawah yang tidak pantas dipakai menjadi sebuah nama. Sebuah nama yang memakai i’rob khofad memiliki makna filosofis negatif, yakni kedudukan kasroh atau di bawah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menurut cerita pamannya, pamannya dapat cerita dari ayah Kang Syukri, kata “syukri” berasal dari isim masdar “syukron” yang bertemu dengan ya’ mutakallim wahdah, maka kata Syukri memiliki arti syukurku, atau rasa syukur yang kumiliki. Orang tua Kang Syukri sangat menginginkan dirinya menjadi orang yang ahli syukur. Orang yang syukur dan ridho atas keputusan Allah memiliki kedudukan yang teramat mulia di sisi-Nya. Ahli syukur adalah pemenang di setiap pentas kehidupan.

“Kang Syukri!” panggil Kiai Fatah suatu waktu. Kang Syukri pun mendekat sembari membungkuk takdzim.
“Tolong belikan daging ayam, kecambah, sama bumbu soto ya. Nanti berikan ke mbak-mbak yang ada di dapur,” perintah Kiai Fatah. Tanpa ba-bi-bu, Kang Syukri langsung berangkat ke pasar mencari pesanan kiainya.

Beberapa saat kemudian Kang Syukri sudah kembali membawa pesanan Kiai Fatah tadi. Namun kemudian Kang Syukri didera bingung ketika akan memberikan pesanan itu. Daging ayam harus diberikan kepada santri putri yang mengurusi masak, tetapi ketika Kang Syukri sudah membunyikan lonceng untuk memanggil para khodimah, mereka tak kunjung datang. Kang Syukri berdiri mencakung menanti kedatangan perempuan yang sudah sangat dia hafal bentuk dan warna kulit serta baju yang biasa dikenakannya, bahkan Kang Syukri juga hafal bau keringat perempuan khodimah Kiai Fatah itu. Sembari menunggu kedatangan khodimah itu, Kang Syukri membayangkan seperti apa wajahnya. Suara lembut perempuan itu selalu mampu menggetarkan dadanya. Dan semakin hari dia semakin penasaran seperti apa wajah perempuan itu. Ketika suara gesekan sendal khodimah itu terdengar di gendang telinga, dada Kang Syukri mulai berdebar-debar tak terkendali.

Sudah ada lima tahun Kang Syukri memendam penasaran itu. Entah itu sebenarnya apakah hanya rasa penasaran atau ada warna perasaan yang lain. Kuat-kuat dia mengendalikan diri agar tidak berbuat kelewat batas dalam mengenal santri putri. Kini dia sudah berusia tiga puluh tahun. Dan pengabdiannya kepada Kiai Fatah sudah selama tiga belas tahun, terhitung sejak kewafatan ayahnya di tahun kedua dia mondok di pesantren Futuhiyyah asuhan Kiai Fatah ini. Ngajinya juga sudah khatam walaupun masih ada banyak kitab yang bolong-bolong. Bagi Kang Syukri, alur hidup seorang santri adalah ngaji, ngabdi, rabi. Mondok sampek rabi, ngaji sampek mati. Dia ingin mewujudkan tekad itu. Bahwa selama belum nikah dia bertekad akan tetap mondok. Baginya mencari ilmu harus berlangsung sampai akhir hayatnya. Dan saat ini usianya sudah cukup matang untuk menikah. Maka usaha harus dia lakukan.

“Mbak, tunggu dulu,” sergah Kang Syukri melihat tangan perempuan itu mengambil kantung plastik berisikan barang belanjaan tadi. Transaksi antara khodim dan khodimah hanya sebatas suara saja. Barang belanjaan ditaruh di atas sebuah meja dan khodimah hanya boleh menampakkan tangan untuk mengambil barang itu. Mereka dibatasi dinding dari bilah-bilah papan yang dilubangi untuk mengambil barang.

Perempuan itu menghentikan langkahnya dengan menahan setumpuk penasaran. Tak biasanya Kang Syukri memanggilnya. Seingatnya, semenjak menjadi khodimah Kiai Fatah lima tahunan yang lalu, baru kali ini dia dipanggil oleh santri putra itu. Nama Kang Syukri sudah terkenal di kalangan santri putri, khususnya para khodimah, karena saking lamanya Kang Syukri menjadi abdi ndalem atau khodim Kiai Fatah.

“Ada apa Kang Syukri?” tanya khodimah itu. Dan dada Kang Syukri semakin berdebar karena namanya disebut oleh perempuan yang diam-diam mengisi ruang hatinya itu.

“Boleh tahu namamu Mbak? Namamu siapa?” tanya Kang Syukri memberanikan diri.

“Untuk apa Kang?” tukas perempuan itu dengan suara lirih seolah sedang berbisik- bisik, takut kedengaran kiai.
Kang Syukri mulai keringetan menahan grogi. Dia kini bingung harus menjawab bagaimana. Kang Syukri terdiam agak lama hingga kemudian terdengar suara gesekan langkah perempuan itu. Akhirnya dia menjawab sekenanya.

“Barang kali nanti Kiai Fatah bertanya siapa penerima belanjaan ini, biar aku tidak bingung menjawab pertanyaannya,” tukasnya dengan suara sedikit bergetar.

“O begitu. Namaku Nurmala Kang, panggil saja Mala,” jawab perempuan itu sambil melangkah pergi. Kini Kang Syukri tinggal sendirian. Dan nama itu semakin deras mengisi ruang-ruang dalam hatinya. Naluri sorof Kang Syukri segera bergerak memahami nama perempuan itu. Dia teringat lagu kullul kulub. Kullul kulubi ilal habibi tamilu –setiap hati selalu cenderung pada kekasih hatinya. Lalu Kang Syukri menasrif nama itu, Maala- yamiilu- mailan. Mala berposisi sebagai fi’il madhi yang menunjukkan waktu lampau. Dia kemudian tersenyum. Nama itu memang sudah bercokol di dalam hatinya sejak lama. Mala bermakna condong atau kecenderungan. Dan hati Kang Syukri semakin cenderung terikat pada gadis itu, meskipun dia belum pernah melihat seperti apa wajahnya. Sebagai seorang khodim, dia jarang sekali berinteraksi dengan kaum hawa. Baginya perempuan adalah makhluk yang hanya ada dalam angan-angannya.

Kang Syukri semakin memantapkan diri. Sudah saatnya dia pulang. Dan dia bertekad pantang pulang sebelum membawa istri sesama santri. Sebagai sesama pelayan kiai, dia menganggap Mala memiliki persamaan latar belakang dengan dirinya. Ini adalah faktor kafa’ah atau sekufu yang menjadi anjuran dalam mencari pasangan hidup agar kelak bahtera rumah tangga yang diarungi tidak goyah di tengah jalan.

Menjelang Lebaran Kang Syukri bermaksud mengutarakan keinginannya pada Kiai Fatah. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan keinginan itu. Dia harus mengungkapkan perasaannya.

Tinggalkan Balasan