Karena Manusia Diciptakan Berbeda

Saya akan berangkat dengan satu pemahaman yang mendasar tentang “menyembah”. Perilaku menyembah menandai bahwa ada yang disembah. Untuk bisa menyembah tentu jauh sebelum perintah itu, subjek yang disembah, dalam hal ini adalah Allah, sudah menciptakan regulasi atau aturan dalam sebuah ritus.

Maka, jika yang ditanyakan adalah cara menyembah yang syari, yang sesuai aturan, maka tentu rujukannya adalah hukum syariat, yaitu menyembah melalui salat. Dan, penyembahan ini berlaku sama untuk setiap muslim.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, apakah kita hanya menyembah melalui salat yang hanya diwajibkan sangat terbatas dalam hari-hari kita? Lalu, bagaimana dengan sisa waktu kita yang tidak dialokasikan untuk salat? Apakah bukan pada kerangka penyembahan, dengan artian, setelah salat apakah kita murtad?

Ruang terbesar penyembahan sebenarnya diimplementasikan di luar salat. Laku-laku kebaikan, persepsi pikiran, semua harus satu jalan dan niatan untuk proses penyembahan. Menolong kucing yang tercebur di parit, menyiram tumbuhan, semua adalah laku penyembahan kepada Allah. Mencuri, berkata kasar, dan menghina, itu adalah tanda bahwa rupanya kita masih punya sebagian waktu yang tidak digunakan untuk menyembah. Sebagai seorang penyembah, pantaskan kita berbuat yang tidak pantas, padahal ada pihak yang disembah yang melihat? Malu rasanya.

Tinggalkan Balasan