Dari ruang penyembahan yang dominan itulah akhirnya perbedaan itu muncul. Ada aturan muamalah yang disesuaikan dengan di mana seorang muslim itu tinggal. Sehingga laku kebaikan dan standar kebaikan selalu berbeda, namun tetap satu makna, yaitu untuk proses menyembah. Di sisi inilah para wali-wali Allah mendermakan jiwa raga mereka untuk meracik strategi agar konsep Islam tidak hanya ditanamkan dalam laku syariat, tetapi juga muamalah yang sangat dinamis dengan kebudayaan di Nusantara.
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. (Al-Hujarat:13).

Allah sebagai yang mempunyai wewenang atas jagat ini sudah menegaskan bahwa perbedaan bukanlah hambatan, dan menjadi sama bukanlah suatu keharusan. Justru, perbedaan diciptakan agar kita saling berbuat baik dan menjalankan muamalah dengan baik (saling mengenal). Dan, yang paling mulia di sisi Allah bukanlah dinilai dari seberapa banyak umat yang kita himpun, seberapa terkenal ustadz yang kita idam-idamkan, dan seberapa berpengaruhnya ulama yang kita ikuti. Orang yang paling mulia di sisi Allah dinilai dari ketakwaannya. Percuma jika kita berguru kepada seorang ulama, namun tidak menmbuhkan ketakwaan kepada Allah dan tidak menumbuhkan sifat yang santun. Percuma.
