Kawah Puisi itu Bernama Ijen

Sementara, Nani Asiyany MS, dalam pusinya “Batu dan Para Nestapa” memonitor orang-orang yang berjuang untuk hidup:

…….
Batu belerang, 
Engkau sahabat para nestapa
Ketika tubuh lunglai tak berhasrat
Tiada sesuap untuk dicerna 

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

……

Penyair lainnya, Wahyu Rizki Kirnaini, “Kemuning Berpijar Biru”, menggambarkan geliat kawah dengan pijar biru:
Di kejauhan terlihat asap mengepul

Banyak orang bercerita di sana adalah Ijen
Gunung berkawah keindahan tiada tanding

…….

Dan masih banyak lagi puisi-puisi di buku yang diterbitkan oleh Taresia (Gerbang Literasi Nusantara) ini. Bekerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Semoga catatan kecil ini menjadi inspirasi bagi pembaca, sekaligus semakin berhasrat untuk tertarik membaca buku ini lebih mendalam.

Resensi ini tidak mewakili secara keseluruhan isi buku. Hanya menyuguhkan sekilas gambaran bahwa di buku ini terdapat Kawah Ijen yang menjadi tema pokok bangunan puisi. Sementara, buku antologi ini tetaplah menjadi bacaan utuh bila dinikmati dengan membaca secara keseluruhan. Merenungkan, tadabbur sajak, serta menterjemahkan dalam nilai-nilai hidup kesastraan. Wallahu A’lam! 

***

Indentitas Buku:

Judul: Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu
Penulis: Abd. Sarno Arbara, Abdillah Danny, Abdul Halim, dkk
Editor: Nurul Ludfia
Kurator: Wayan Jengki Sunarta, Mutia Sukma, Mahwi Air Tawar
Profreader: Muttafaqur Rohmah
Supervisor Penerbitan: Samsudin Adlawi, M. Iqbal Baraas, Hasan Basri
Tim Penyusun:  Azzahratulkhalifah Hasni, Indana Iftitania Salsabila
Penerbit: Taresia (Gerbang Literasi Nusantara)
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Jumlah Halaman: 400 h (14 x 21 cm)

Tinggalkan Balasan