Kebanggaan Marka’i

Di mana pun ketika Marka’i ada, topik anaknya menjadi pemersatu. Seakan-akan dia menjadi idola semua orang di sana. Beranjak remaja, anak Marka’i semakin mencuri perhatian. Entah berapa bungkus hadiah yang dia bawa pulang setiap hari ulang tahunnya. Saat itu dia akan mencoba menasihati anaknya.

“Jangan sampai kamu tandur…,”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“… Lalu saat berbuah lupa dipetik. Dan akhirnya busuk,” sang anak langsung menyahut dengan senyum sumringah.

“Iya pak, saya tahu. Seperti yang bapak bilang. Hati wanita seperti kaca, kalau pecah tak bisa kembali semula.”

Marka’i lalu tersenyum, pergi ke belakang dan mengambil capilnya.

Setelah lulus SMA, sang anak ingin langsung bekerja. Marka’i menawarinya untuk kuliah. Masalah dana tak perlu di khawatirkan. Setidaknya ada sepetak tanah yang bisa dia jual bila hasil dari berkebunnya tak cukup. Awalnya pemuda itu menolak, tapi dia tak bisa membohongi keinginannya. Dan akhirnya dia meminta restu agar bisa ke kota untuk mendaftar. Di sela-sela itu banyak juga beberapa tamu yang mampir ke gubuk Marka’i. Mereka hendak meminta berbesan. Dari teman sejawatnya di sawah, hingga lurah kampung sebelah. Mengaku bila anak gadis mereka terpikat dengan pemuda yang baru lulus SMA itu. Tapi semua jawaban ditepuk rata. Dia serahkan hal itu pada si anak yang masih ingin lanjut kuliah.

Pada semester akhir dia mendapatkan tawaran pertukaran pelajar ke Jepang. Kabar itu segera sampai melalui surat. Karena tak ada yang dapat menggunakan handphone di rumahnya. Namun karena tak kunjung ada balasan akhirnya si anak menelepon tetangga sebelah. Namun saat itu Marka’i tengah ke sawah. Maklum, perbedaan waktunya dua jam. Dia akhirnya hanya menitip salam lewat gawai tetangga.

Kabar itu segera disampaikan ke Marka’i. Dan secepat itu juga sampai ke seluruh warga desa. Betapa air matanya mengucur deras. Berulang kali dia menyebut asma Tuhan dan bersujud di rumahnya, yang hanya berlantai tanah di atas sajadah lusuhnya. Marka’i tak pernah sebangga itu dalam hidupnya. Perjuangan menahan laparnya empat kali seminggu tak sia-sia. Hingga sekarang sampai menjadi sebuah kebiasaan.

Setelah menyelesaikan studi di sana, lantas dia pulang. Segera memboyong Marka’i ke sebuah apartmen mewah. Namun Marka’i hanya betah sebulan di sana. Alasannya sepele: tak ada suara adzan di sana. Dia tak dapat bertemu kawan sejawatnya di langgar. Akhirnya sang anak berpamit kembali ke Negeri Sakura. Genap setahun, anaknya kembali ke kampung halaman. Membawa seorang wanita yang jelita. Mengharap sebuah restu dari Marka’i dan istri. Dan lalu membuatkan sebuah rumah megah di pinggir desannya, yang tak terlalu jauh dari surau. Tak lupa juga ia menyewakan beberapa pembantu untuk mengurusi kebutuhan sang ayah.

Tinggalkan Balasan