Awalnya dia tak mau. Atau lebih tepatnya tak tega. Tapi dalam lubuk hatinya dia tak kuasa menahan. Sang ibu mendekatkan gawai itu ke telinga Marka’i. Sebuah kalimat syahadat dibacakan dari negeri seberang. Merasuk ke lubang telinga tua itu. Lalu ke relung hatinya, dan keluar lewat mulutnya. Dalam hatinya Marka’i tersenyum lebar. Kebanggaannya bisa dia tinggal dengan tenang.
