Kebanggaan Marka’i

Setelah mengantungi restu dia kembali. Ada sebuah perusahaan yang harus dia pimpin di sana. Meninggalkan Marka’i dan istri di kampung halaman. Sekilas Marka’i mengelus dada, perasaannya sedikit lega. Sedikit lagi tugasnya usai.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tahun-tahun berganti cepat. Setiap bulan Marka’i menerima telepon. Beberapa kali dia tengah bergurau melihat tingkah jenaka sang cucu.

“Pak, tahun ini sepertinya tak bisa pulang. Meski setelah Lebaran keadaan belum juga membaik.”

“Tak apa, tugas bapak sudah selesai. Saat kau telah mengantungi restu dan membawa Noshiko kemari. Saat itu bapak telah melepasmu menjadi manusia utuh.”

Air mata sang anak mengucur deras. Terlihat ada rasa yang tertahan di sana. Semua maskapai penerbangan tak diizinkan untuk membawanya ke kampung halaman.

“Kau masih tetap dengan salatmu,” sang anak mengangguk.

“Boleh aku meminta satu hal. Terakhir kalinya sebagai seorang pria,” kembali sang anak mengangguk.

“Bisikkan ajian itu.”

Tinggalkan Balasan