Kebenaran yang Bercerita

Tanpa kuindahkan dan kusapa orang-orang itu, aku tetap berjalan menuju kuburan. Tak jauh dari gubuk, kudapati Bu Surti –salah seorang penjual di pasar yang jualannya selalu aku beli tiap pagi– juga sedang merumpi bersama banyak ibu-ibu. Lirih-lirih terdengar olehku: “Bagaimana besok siksanya di akhirat, Mbak? Kata Kiai Manab, orang yang pernah sekali makan harta masyarakat saja siksanya pedih banget, apalagi…” Aku tidak tahu lanjutannya. Derap langkahku sudah terlampau jauh dari gerombolan mereka.

Aku tiba di kuburan. Pak Syuhada dan Pak Ngajiman sedang menggali liang kubur untuk Salam dengan mencangkulnya. Melihat aku mendekat, Pak Syuhada menghentikan ayunan cangkulannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku heran, Mat, tanah yang kugali ini sangat empuk sekali, tidak seperti tanah biasanya.” Tiba-tiba Pak Syuhada mengatakan seperti itu. Entah, aku tidak tahu makna tanah empuk yang dimaksud olehnya. Aku tidak pernah menggali liang kubur.

“Apa Pak Syu juga ikut benci pada Salam??” tanyaku penuh penasaran.

“Tidak pernah sedikit pun aku berani membenci kiai, Mat. Orang yang benci terhadap orang saleh adalah orang yang bodoh. Hanya orang-orang jumud yang membenci kiai,” seloroh Pak Syuhada sembari menghentikan ayunan cangkulnya.

Pak Ngajiman tetap khusyuk menggali kubur. Ia diam sedari tadi, tidak berbicara barang sekata pun. Mungkin, diam-diam dia juga membenci Salam.

“Apa Pak Syu tidak mendengar kabar tentang Salam?” celetukku lagi.

“Aku kenal Kiai Salam, Mat. Aku tahu bagaimana sikap beliau. Kalau kamu membenci, itu hakmu. Aku akan tetap kagum terhadap kesabaran beliau dalam menghadapi fitnah,” jelas Pak Syuhada.

“Apa menurut Pak Syu kabar tentangnya itu fitnah?”

“Firasatku.”

Aku duduk di samping Pak Syu, di dekat liang yang ia gali, menunggu jenazah Salam datang.

Menjelang sore, ketika matahari merangkak bersembunyi di balik mega-mega dan senja telah menyorotkan binar cahayanya pada semesta, kulihat lima orang mengantarkan Salam ke pembaringan terakhir. Derap langkah mereka lebih nyaring terdengar dari suara kalimat tauhid.

“Itu Kiai Salam, Mat,” kata Pak Syuhada. Pak Ngajiman telah pulang setelah selesai menggali kubur.

Jenazah Salam semakin mendekat. Aku mencium bau yang harumnya tidak pernah aku cium sebelumnya. Semakin mendekat, bau itu semakin tajam. Pada akhirnya, setelah jenazah itu dibuka, aku turun ke liang kubur untuk membantu menurunkan jenazahnya.

Ketika tanganku akan menggapai jenazahnya dari atas liang, sebuah tangan terlebih dahulu meraih jenazah itu. Tangan itu putih sekali. Tak hanya itu, orang-orang berjubah putih tiba-tiba berbondong-bondong menghampiri kuburan. Kalimat tauhid berkumandang dan bergema terdengar sahut-sahutan. Keras sekali.

Tinggalkan Balasan