Aku merasa gamang. Takut. Apakah yang disampaikan oleh Pak Syuhada’ adalah kebenaran, bahwa kabar tentang Salam adalah fitnah belaka?
***

Pagi itu, saat Selamet menjaga parkir di pasar, ia melihat Marjo mengenakan jas hitam layaknya orang-orang kantoran di warung kopi depan pasar. Ia mengajak Marjo kenalan. Marjo memperkenalkan dirinya sebagai bos besar di Jakarta. Padahal, sebenarnya dia adalah buron di Jakarta karena kasus korupsi. Ia bersembunyi di Kenduri agar tidak tertangkap polisi.
Singkat cerita, mereka berdua membicarakan bisnis yang prospek untuk menghasilkan pundi-pundi uang yang banyak di Desa Kenduri. Selamat yang sedari awal memendam dendam pada Kiai Salam karena telah kalah dalam pemilihan kepala desa enam tahun lalu, usul kepada Marjo untuk mendirikan pondok pesantren sebagai mata pencaharian. Selamet memberi gambaran pada Marjo perhitungan jariah setiap santri di pondok pesantren yang dibangun oleh Kiai Salam dua tahun lalu.
“Agar pondok pesantren kita cepat mendapatkan banyak murid, kita bikin saja kabar kalau Salam telah melakukan korupsi. Kita suap beberapa bawahan Salam untuk mendukung fitnah itu, Bos,” usul Selamet. “Urusan itu gampang,” lanjutnya. “Serahkan saja padaku! Bos bikin saja bangunan untuk tempat bermukim anak-anak. Nanti guru-gurunya gampang. Banyak orang-orang pintar. Mereka sangat butuh uang.”
“Datanglah besok ke rumah Pak Kepala Desa, Met. Bilang ke Pak Kepala Desa kalau dana desa tahun lalu dikorupsi Salam untuk membangun Pondok,” pinta Marjo sambil menepuk-nepuk pundak Selamet. “Besok kalau semua santri Salam pindah ke pondok yang aku bangun, kuangkat kau jadi pimpinannya.”
“Siap, Bos,” jawab Selamet.
Marjo berdiri dari duduk sambil memberikan amplop putih pada Selamet lalu berjalan menuju bangunan yang sudah ia siapkan untuk pondok pesantren.
Tak perlu waktu lama Selamet menyebarkan fitnah ke seantero Desa Kenduri. Ia memberikan sebagian uang –yang diberikan oleh Marjo– ke beberapa bawahan Kiai Salam untuk menyebarkan fitnah. Ahmad, anaknya, disuruh pulang dari pondok pesantren milik Kiai Salam dan diberi uang juga untuk mengajak teman-temannya pindah ke pondok pesantren milik Marjo.
Setelah fitnah itu menyebar ke semua lini masyarakat, Ahmad melancarkan misinya. Ia mengajak teman-temannya di pondok untuk makan gratis di warung Mak Iyem yang terkenal mahal. Setelah semua temannya makan, ia bilang kalau semua itu adalah bentuk kedermawanan Kiai Marjo.
Tak lupa Ahmad juga memprovokasi mereka untuk pindah ke pondok pesantren milik Marjo di dekat rumahnya. Mereka kemudian berbondong-bondong pindah.
***
Pondok pesantren milik Kiai Marjo dikepung banyak polisi. Kabar itu dengan cepat tersebar di masyarakat. Mendengar kabar itu, masyarakat berbondong-bondong menuju rumah Kiai Marjo untuk memastikan sebab kejadian. Aku yang mendengar kabar tentang ramainya kiai Marjo dari Ayah juga langsung menuju rumahnya. Sampai sana, rumah Kiai Marjo telah dilingkari oleh tali kuning dari pihak kepolisian.
Semua masyarakat dan santri yang hadir terheran-heran dengan kejadian itu. “Jangan-jangan yang korupsi Selamet si tukang bual itu, Bu,” kata seseorang. “Mungkin, Yu,” jawab yang lain. “Dua tahun ini ia mendadak kaya raya.”
Aku menghampiri polisi yang berdiri menunggu teman polisinya meringkus Marjo dan Selamet di dalam rumah besarnya. “Ada apa ini, Pak?” tanyaku penuh heran.
