Kekerasan pada Anak, PR Pemerintahan Baru

Jika mencermati data-data dan sebaran kasus kekerasan terhadap anak tersebut, yang dari tahun ke tahun trennya terus meningkat, artinya kita sebagai bangsa tak bisa melindungi anak-anak kita sendiri, tak bisa melindungi masa depan kita sendiri. Bahkan, menyediakan ekosistem pendidikan yang baik, yang ramah anak pun, kita tak mampu. Data tersebut, dengan sendirinya, membuktikan bahwa selama ini kita telah abai terhadap nasib dan masa anak-anak kita sendiri. Jika negara hadir dan tak abai, sudah bisa dipastikan angka-angka kasus kekerasan terhadap anak-anak akan terus mengalami penurunan, bahkan seharusnya sampai ke tingkat nol.

Senyampang baru terjadi pergantian kepemimpinan nasional sejak 20 Oktober lalu, inilah salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kita tahu, sesuai dengan janjinya di masa kampanye, Prabowo punya semangat untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia melalui program makan siang bergizi gratis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi percayalah, perbaikan gizi saja tidak cukup untuk bisa melahirkan generasi emas. Kuncinya justru ada pada perbaikan ekosistem pendidikan kita, salah satunya ekosistem pendidikan yang ramah anak. Tanpa memperbaiki ekosistem pendidikannya, program perbaikan gizi tak ubahnya sebatas “penggemukan sapi di kandang macan”. Dan mimpi akan melahirkan generasi emas di tahun emas 2045 akan menjadi omong kosong belaka.

Karena itu, fenomena pucuk gunung es kekerasan terhadap anak ini harus menjadi salah satu program prioritas pemerintahan baru, khususnya Kemen-PPPA yang nomenklaturnya memang di bidang itu. Ia harus menginisiasi dengan melibatkan kementerian terkait untuk mendesain program dan berani memasang target kapan tingkat kekerasan terhadap anak harus nol. Setidaknya, harus bisa membalik tren agar dari tahun ke tahun angka kasus kekerasan terhadap anak terus menurun, bukan malah sebaliknya. Ukurannya gampang, jika dua-tiga tahun lagi angka kekerasan terhadap anak trennya masih naik, berarti kita gagal melindungi anak-anak kita sendiri. Dan lupakan mimpi tentang generasi emas.

One Reply to “Kekerasan pada Anak, PR Pemerintahan Baru”

  1. Menurut saya, perlindungan terhadap anak tidak semata tanggung jawab pemerintah an sich. Tetapi merupakan tanggug jawab kita bersama, terutama kesadaran anggota keluarga untuk melidungi buah hati dari ragam kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Benar memang, pemerintah punya kewajiban untuk memperhatikan tindak kekerasan terhadap anak agar tidak semakin memprihatinkan. Salam,,,

Tinggalkan Balasan