Kemanusiaan dan Pluralisme

Masalah kemanusiaan tidak hanya terbatas pada akal budi, akan tetapi juga bagaimana memanusiakan manusia yang lain. Agar terbangun kehidupan yang damai, tentram, dan sejahtera, misalnya, setip manusia harus memanusiakan sesamanya. Sebab, pada dasarnya manusia tidak ditakdirkan hidup secara sendiri-sendiri dan saling menafikan.

Tak jarang kita menjumpai ketika ada bencana atau semacamnya, ada suatu gerakan seperti bantuan kemanusiaan. Kata kemanusiaan menjelaskan hakikat manusia yang berakal dan berbudi. Di sinilah kita juga dapat memaknai nilai-nilai kemanusiaan di dalam sila kedua dari Pancasila. Sila kedua Pancasila ini mengandung pengertian bahwa setiap manusia sama-sama ingin diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku makhluk ciptaan Tuhan, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, tanpa membedakan agama, suku, ras, dan keturunan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, keanekaragaman di Indonesia ini dapat menjadi kebanggaan, namun dapat pula menjadi sebuah ancaman perpecahan. Adanya keanekaragaman memungkinkan suatu kelompok masyarakat dapat memilih untuk hidup berdampingan dengan yang lain tanpa menilai dari agama, suku, ras, budaya, dan bahasa yang dimiliki. Namun, adanya keberagaman kondusif pula menjadikan kelompok-kelompok tersebut jadi saling membenci serta saling membatasi berdasarkan perbedaan maupun kesamaan yang ada di antara mereka.

Lebih-lebih, di era global ini, di bawah ancaman bahaya terorisme, komunisme, fundamentalisme, dan sebagainya, kegagalan mengelola keberagaman bisa mendorong bangsa ini ke dalam kondisi terpecah belah. Dalam situasi seperti inilah, nilai-nilai kemanusiaan sangatlah harus dijunjung tinggi. Nilai-nilai kemanusiaan dapat menjadi fondasi yang kokoh dalam mengahadapi tantangan-tantangan zaman ke depan.

Tinggalkan Balasan