Penerapan nilai-nilai kemanusiaan juga dapat kita ukur dari suatu hal yang tercermin dalam masalah hak asasi manusia (HAM) dan hal-hal yang berbau SARA. Kasus pelanggaran di dalam bidang hak asasi manusia (HAM) merupakan hal yang sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Contoh kecilnya yaitu penganiayaan, pencemaran nama baik, menghalangi orang dalam mengekspresikan pendapat, perbudakan, dan lainnya.
Di suatu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, pluralisme memperoleh pijakan yang kokoh. Indonesia adalah salah satu contoh negara di mana masyarakatnya menganut beragam agama dan kepercayaan. Karena itu, pluralisme keagamaan dapat menjadi tantangan khusus bagi bangsa Indonesia.

Jika tidak dipahami dengan benar dan arif oleh semua pemeluk agama, pluralisme agama akan menimbulkan suatu dampak, tidak hanya konflik antarumat beragama, tetapi juga konflik sosial dan disintegrasi bangsa. Di sinilah perlunya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada setiap pemeluk agama dan kepercayaan sebagai langkah untuk membangun pluralisme yang benar dan tidak disalahpahamkan.
Seperti yang diibaratkan Gus Dur, Indonesia tak bisa diatur hanya oleh aturan yang datang dari satu kamar saja. Harus dijalankan berdasarkan kesepakatan bersama. Di sinilah arti pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme.
