Kenapa Indonesia Tak Ada dalam Al-Qur’an

Dalam kitab Taurat (Kejadian 11:9), Allah juga menciptakan keragaman bahasa dan bangsa setelah peristiwa Menara Babel sebagai bagian dari kehendak-Nya: “…dari situlah Tuhan menyerakkan mereka ke seluruh bumi.”

Kita tak perlu dicari namanya dalam mushaf, sebab kita hadir dalam maksud wahyu itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Frasa ini sering dilantunkan dalam doa dan khutbah: “Baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr”. Kadang juga, di kampung saya (Singaparna), para mubalig sering sekali menambahi dengan awalan “Gemah ripah loh jinawi.”

Namun, perlu diperhatikan dengan seksama bahwa ayat itu muncul bukan dalam konteks pujian, melainkan prolog kehancuran.

> كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Artinya: “Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S. Saba’: 15)

Tetapi setelah itu, negeri Saba’ justru kufur nikmat dan dihancurkan oleh banjir besar.

Apakah Indonesia cukup bersyukur? Apakah pemimpinnya amanah? Apakah santrinya teguh memegang ilmu dan akhlak? Apakah Al-Qur’an sudah jadi sumber inspirasi dan bukan sumber dogma?

Jika tidak, kita sedang berada dalam rel yang sama dengan Saba’: dipuji, lalu ditinggalkan sejarah.

Umat yang datang belakangan, tapi bisa menjadi penjaga cahaya, karena Islam datang ke Indonesia lewat jalur damai, yakni dengan proses ‘asimilasi’ dan interaksi sosial semisal dagang, budaya, akhlak. Tidak ada perang, tidak ada fathu. Islam ke Indonesia datang tidak dengan pedang atau imperialisme. Tapi ia datang dengan cinta yang menjalar lewat lisan dan teladan.

Allah berfirman:

Tinggalkan Balasan